Mahameru, Mimpi yang tertunda



                “Jangan sungkan untuk terus bermimpi, dan jangan lupa untuk mewujudka mimpi itu.” Dua tahun silam aku pernah bermimpi untuk berdiri ditempat tertinggi dipulau jawa, yaitu puncak Mahameru. Entah apa yang membuatku bermimpi seperti itu. Yang jelas setiap kali kumemiliki keinginan aku selalu mengusahakan untuk mewujdkannya.

                Awal juli 2018 aku berkesempatan untuk mewujudkan mimpi itu. Pendakian ini sudah terencanakan selama 2 bulan lebih. Berbagai persiapan sudah kami siapkan, hanya untuk menakhlukkan puncak mahameru. Awal mula rencana pendakian ini ialah ajakan dari seorang kawan yang kebetulan bertemu ketika mendaki gunung merapi. Berawal dari 3 orang personil kami mengumpulkan squad untuk pendakian mahameru, dan ahirnya terkumpul 10 orang yang kami dapat dari ajakan melalui media sosial. 10 orang terkumpul dan kami belum seluruhnya saling mengenal. Tapi menurutku inilah yang menyenangkan dari kegiatan mendaki gunung, kita bisa bertemu dan mengenal orang baru sehingga teman kita jadi bertambah.

                Tiba pada hari pemberangkatan, tiba-tiba satu orang membatalkan diri untuk ikut karena alasan pekerjaan yang tidak bisa ditinggal. Ahirnya kami ber-9 pergi meninggalkan rumah selama seminggu untuk menggapai puncak mahameru. Perjalanan menggunakan kreta saya manfaatkan untuk bercengkrama dengan teman-teman baruku. Sekedar untuk mengenal lebih dalam dan belajar dari pengalamannya. Ditengah perbincangan, tiba-tiba kumerasa tidak yakin dengan beberapa orang dirombongan ini. Ternyata beberapa orang dirombongan ini  belum memliki pengalaman naik gunung atau bisa dibilang ini adalah pendakian perdananya. Itulah yang membuatku tidak yakin bahwa rombongan ini bisa sampai ke puncak bersama-sama. Mengingat gunung semeru merupakan gunung yang lumayan susah ditakhlukkan, apakah ia bisa tanpa memiliki pengalaman mendaki? Aku saja pernah sedikit ragu padahal sudah beberapa gunung pernah kutapaki puncaknya dengan berbagai halangan yang meresahkan. 

                Pendakian pun terasa melelahkan, perjalanan yang cukup pelan karena harus membersamai mereka yang beru pertama mendaki, ditambah lagi beban cerilku yang cukup berat karena harus dipenuhi kebutuhan logistik untuk beberapa hari digunung, ditambah membantu membawakan barang bawaan teman yang beru pertama mendaki, supaya tidak memberatkannya dan tidak menambah lambat perjalanan. Perjalanan lambat ini benar-benar menyiksa punggung dan kakiku. Bertambah berat lagi karena sesuai kesepakata kelompok aku bertugas menjadi yang paling belakang dan memastikian keutuhan rombongan. Namun demi terwujudnya mimpi kutetap menguatkan diri ini.

                Sesampainya ditempat camp pertama, yaitu kali mati aku sedikit merasa lega. Meski perjalanan dari basecamp ranupane sampai kali mati ada beberapa hambatan. Kamipun segera beristirahat dan berencana summit attack pada tengah malam. Ketua kelompok kami sebenarnya tidak ingin semuanya ikut summit attack. Karena ditakutkan malah terjadi apa-apa mengingat perjalanan summit attack sangat  berbahaya. Dan ahirnya 2 orang tinggal dan yang lain memaksakan untuk summit meski aku tak yakin ia akan kuat. Summit attack yang rencananya pukul 00.00 tengah malam akhirnya molor, pukul 02.00 dini hari kami baru memulai perjalanan menuju puncak

                Masih saja berjalan dengan lambat, sangat menyebalkan bagiku, tapi apa boleh buat, kebersamaan dan keselamatan kelompok lebih penting daripada egoku untuk sampai puncak, karena tujuan utama dari pendakian bukanlah puncak, tapi pulang dengan selamat. Puncak hanyalah bonus, mendaki sampai kali mati pun sudah lumayan menurutku. 

                Ditengah perjalanan, cuaca mulai tak bersahabat, kabut tebal datang bersama dingginnya udara pagi gunung semeru, tetesan-tetesan air mulai berjatuhan, angin mulai berhembus kencang, dan mulai banyak berpapasan dengan pendaki lain yang berjalan turun karena gugur dalam perjuangan mencapai puncak. Berdasar info dari beberap pendaki yang turun sebelum sampai puncak, katanya di atas terjadi badai dan suhu yang terlalu dingin, makannya mereka mengurungkan niat untuk menuju puncak. Sesampainya di batas vegetasi, rombongan kami berhenti dan menunggu badai reda, beberapa orang mencoba melihat keadaan diatas, ditempat yang tidak ada vegetasi, dan hasilnya mereka kembali turun karena badai sangat dasyat. Kamipun menunggu hingga pukul lima pagi namun badai malah semakin besar, sebenarnya aku dan beberapa teman berani nekat menerjang badai itu, namun tidak mungkin juga mengajak orang yang belum berpengalaman dengan badai untuk ikut menebras badai dan suhu dingin gunung semeru. Dan tidak mungkin juga meninggalkan beberapa orang itu disitu dan ditnggal untuk mengejar puncak. Ahirnya dengan berat hati kami  kembali turun dan mengurungkan niat untuk menggapai puncak.

                Hati ini sebenarnya sangat kacau, penyesalan tak beralasan yang menguasai hatiku, entah siapa yang harus disalahkan, yang jelas alam semesta belum mengijinkanku untuk menggapai mimpiku itu. kesombongan kali ini menguasaiku, sempat ingin menyalahkan kelompok ini karena ada saja yang nekat naik padahal tidak punya pengalaman sama sekali. Dengan berat hati kami turun, namun masih terbesit niat untuk kembali lagi suatu saat nanti bersama orang-orang yang memang sudah berpengalaman digunung. “puncak tidak akan pergi, masih ada kesempatan untuk kembali”.

                Namun dari kegagalan untuk mencapai puncak, ahirnya kusadar bahwa persahabatan ini jauh lebih berharga daripada berdiri dipuncak gunung, sekarang aku merasa kehilangan saat berpisah dengan orang-orang yang baru kukenal itu. Orang yang sudah kuanggap seperti keluarga sendiri, yang telah hidup bersama selama seminggu dalam kerasnya kehidupan, hingga akhirnya kami berhasil, Berhasil mencapai tujuan yang sebenarnya, yaitu pulang dengan selamat. 

“Akan naif sekali jika kita mengorbankan satu nyawa demi satu puncak gunung, padahal masih ada banyak puncak yang belum kita jajaki, masih banyak dosa yang belum kita perbaiki, dan masih banyak kopi yang belum kita nikmati.”
-Ahmad Fauzi Rahman
               

Komentar

Postingan populer dari blog ini

malam ini ku mendaki dalam mimpi

Kawan Lama

Sebuah kisah tentang patah hati

Perihal bahagia (senja, kopi dan mendaki)

Setren Opak (tempat sendu pelepas pilu)

sebatang pohon

Kultur Angkringan Yang Mulai Pudar

Sampah visual bikin sakit mata aja

Perjalanan tanpa ujung

touring (telaga sarangan)