Kultur Angkringan Yang Mulai Pudar


            Setelah hujan reda disore hari, menyisakan semerbak aroma khas yang keluar dari aspal basah, setelah seharian terbakar terik mentari serta digilas ratusan roda-roda kendaraan yang mengantar orang-orang memutar roda-roda kehidupan. Deru mesin bergemuruh dan kicau klakson bersahutan, terkadang lontaran kata kotor karena emosi dengan pengendara lain yang pecicilan terlontar dari beberapa mulut orang-orang kelelanah, bangsat sampai bajingan kadang mereka ucapkan untuk meluapkan emosi yang berlebihan, penanda mereka semua telah lelah bekerja seharian. Lalu harus menghadapi berjubel kendaraan yang memenuhi jalan dari tengah hingga ketepian.
            Jalanan kota jogja sore itu masih seperti biasanya, dengan kendaraan yang mulai bertambah banyak dan berjubelan, polusi udara yang sedikit terasa sejuk karena terguyur hujan, polusi suara dari kenalpot dan klakson kendaraan, serta polusi visual dipingiran jalan, sepanduk, baliho, sampai bendera kampanye dari berbagai partai untuk saling bersaing menunjukkan keunggulan, saling berambisi meraih kemenangan dalam pemilihan. Sungguh sangat mengurangi keindahan tata kota yang tak terkondisikan. Hufttt, jogjaku kini terasa menyedihkan.
            Perjalanan dari kampus menuju rumah terasa sangat melalahkan, membuat isi kepala saya bertambah pusing menghadapi kenyataan dan padatnya kendaaraan. Saya putuskan untuk berhenti sejenak disebuah angkringan dipinggir jalan, sekedar mengisi perut yang kelaparan karena sejak dini hari belum mendapat asupan makanan. Kenapa angkringan? Karena saya datang sendirian, jadi kalau makan diwarung atau rumah makan yang dipinggiran jalan kayaknya keliatan banget jonesnya, namun kehadiran angkringan menjadi solusi. Angkringan adalah tempat menemukan teman bagi orang yang hendak makan namun tak punya teman, angkringan adalah tempat bercengkrama walau tidak diawali dengan perkenalan. Di angkringan terkadang juga melahirkan gagasan-gagasan besar dari perbincangan yang tidak direncanakan. Terkadang angkringan juga menjadi tempat menuangkan kegelisahan dan menjadi penampung segala keluh kesah dan curhatan. Nyatanya itu hanya ekspetasi saya.
            Nyatanya sekarang angkringan ditengah kota tak seperti yang saya harapkan, ngobrol lama dan tertawa ria sembari melahap nasi kucing dan mendowan kini sudah tidak ada. Sekarang orang-orang hanya mampir makan seperlunya lalu pergi tanpa ada sedikitpun perbincangan, taka ada lagi yang berlama-lama duduk sambil ngobrol ngalor ngidul. Saya yang biasanya betah duduk diangkringan untuk ngobrol dengan sipenjual atau pelanggan lain yang tak kukenal kini berubah menjadi sipendiam dan pengamat keadaan. Ada bapak-bapak ojol yang barusaja datang memesan susu jahe, baru satu sruput terpaksa ia membungkus minumannya karena harus segera beranjak menemui pelanggannya, “kang, susu jahe ku bungkusen, ono orderan ee” katanya.
            Setelah bapak-bapak ojol berlalu, datang dua orang remaja memesan beberapa minuman dibungkus, sepertinya pesanan dari teman lainnya, sambil mencomoti beberapa gorengan dan memasukkannya dalam kantong plastik tak kudengar percakapan dari mulut mereka. Mereka hanya sebatas mampir membeli lalu pergi dan tak peduli untuk berinteraksi. Tak lama ada sepasang remaja yang sedang pacaran dan kebetulan perutnya juga kelaparan, datang mengambil beberapa nasi dan membawanya ke tempat lesehan lalu mereka hanyut dalam dunianya. Dari arah lain datang seorang perempuan berparas rupawan, kuperhatikan lumayan cantik juga, dengan ramah ia menyapa sipenjual, ternyata ayahnya, datang hanya menyapa dan mengantar beberapa biji nasi kucing lalu beranjak pergi lagi.
            Hampir 20 menit saya duduk disini tanpa berbincang seperti diangkringan tempat lain, sembari menikmati the hangat, otak saya bertana-tanya, apakah seperti ini angkringan ditengah kota? Tak ada canda tawa dan saling bertukar cerita, semua yang datag hanya membeli seperlunya lalu pergi begitu saja entah kemana. Sepertinya saya sudah terlalu lama duduk disini tanpa pembicaraan, selain bicara dengan penjual untuk memesan secangkir teh hangat dan bertanya lauk nasi kucingnya apa. Karena merasa tidak enak, segera kuhabiskan secangkir the hangat lalu membayar dan bergegas melanjutkan perjalanan pulang.
             Sekian sedikit cerita yang tak bermakna namun dapat menuangkan sedikit kegelisahan tentang kenyataan bahwa angkringan kini tak lagi menjadi tempat bercengkrama, tak lagi menjadi tempat bertukar fikiran. Semua berlalu begitu saja. Apa ada yang merasa demikian? Atau perasaan saya saja? Atau saya benar-benar menjadi introvert yang suka dengan kesendirian dan memilih kesepian ditengah keramaian?

Komentar

  1. Huuuuh. Kamu tu ekstrovert. Ngeyel. Hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. semenjak kenal kamu aku jadi ekstrovert, semuanya pingin tak ceritain ke kamu

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

malam ini ku mendaki dalam mimpi

Kawan Lama

Sebuah kisah tentang patah hati

Perihal bahagia (senja, kopi dan mendaki)

Setren Opak (tempat sendu pelepas pilu)

sebatang pohon

Sampah visual bikin sakit mata aja

Perjalanan tanpa ujung

touring (telaga sarangan)