Perihal bahagia (senja, kopi dan mendaki)


                Hallo pembaca, apa kabar hari ini? Sudahkah kamu bahagia hari ini? Intinya jangan lupa bahagia yaa, karena bahagia itu dekat dengan diri kita, yaitu ada didalam diri kita, Kata Buya Hamka. Sebenarnya saya bingung dan entah kenapa pingin nulis diblog, meski entah siapa aja yang baca blog ini. Blog yang deskripsinya “catatan petualangan” ini rasanya sudah sangat jarang saya isi dengan konten-konten tentang crita petualangan saya, khususnya mendaki gunung. Hal tersebut dikarenakan saya sudah jarang mendaki gunung dan bingung juga mau nulis apa dari pendakian-pendakian yang saya lakukan. Padahal, setiap pendakian pasti memiliki ceritanya sendiri, selain cerita ternyata juga ada derita, tapi tak apa, derita akan mengajari kita artinya tumbuh dewasa. Ditulisan ini hanya akan menceritakan sedikit petualangan saya ditengah belantara hutan kehidupan, karena nyatanya petualangan tidak melulu soal pendakian, iya kan?. Kembali lagi ketujuan awal kenapa saya menulis ini, saya hanya ingin membagikan beberapa hal atau kegiatan yang membuat saya merasa bahagia. Hanya beberapa loh yaa, nggak semuanya. Meskipun saya sebenarnya selalu bahagia apapun kondisinya, baik itu bahagia sungguhan ataupun hanya pura-pura. Beberapa hal yang membuat saya bahagia selain bisa bersanding dengan dia (apaan sih) adalah menikmati senja, meminum kopi, dan mendaki gunung.
 
  1. Menikmati senja
    Pernahkah kalian melihat langit dikala senja menyapa? Warna jingga yang terhampar terkadang membuat mata enggan untuk berhenti menatapnya. “Kalau diibaratkan siang dan malam itu adalah aku dan kamu, maka senja adalah waktu yang paling aku sukai, karena disitulah kita bertemu”. Hahahaa, apaan sihh. Ya itulah kenapa saya bisa bahagia padahal hanya dengan hal sesepele itu, melihat senja. Dan yang paling saya suka dari senja adalah perubahan warna langit yang begitu indah jika kalian merekamnya dan mempercepat videonya atau kalian bikin time laps, perubahan warna dari langit yang biru berubah menjadi kekuningan, lalu perlahan menjadi jingga, semakin lama akan memerah lalu berakhir temaram. Peralihan dari terang menuju gelap yang begitu indah, menurut saya.

  2. Minum kopi
    “Secangkir kopi adalah teman yang pas untuk hati yang sepi, sengaja kubiarkan pahit tanpa gula karena hati terlanjur sepi tanpa hadirnya.” Setuju nggak? Kopi memang sangat pas untuk teman pelampiasan patah hati, karena menurut sebuah penelitian, kopi hitam mengandung senyawa kafein yang mampu memicu hormon endorfin yang dihasilkan oleh otak, hormone ini dapat menyebabkan kurangnya rasa sakit, perasaan stress dan dapat memicu rasa bahagia. Maka dari itu meminum kopi saat sedang patah hati atau stress adalah salah satu cara yang tepat. Meskipun hormon endorfin sebenarnya juga disa dipicu dengan hal lain seperti rokok, tapi bagi saya hanya kopi yang paling nikmat.

     
  3.  Mendaki gunung
    Entah apa yang kudapat setelah mendaki gunung selain mendapat pengalaman dan cerita, tapi kebahagiaan tersendiri saya rasakan setelah berhasil menginjakkan kaki dipuncak gunung, selain itu perjalanan melelahkan menuju puncak melewati belantara hutan menurutku adalah rekreasi paling menyenangkan. Hijaunya vegetasi sangat menyegarkan mata. Karena sejatinya mata akan serasa segar bila melihat yang hijau-hijau, seperti dedaunan dan juga uang  hehehe. Oh iya, mendaki gunung itu dapat membuat otak sedikit tenang, karena dengan mendaki maka saya harus meninggalkan kefanaan kota dan menemui ketenangan ditengah hutan.


Itu dia tiga hal atau kegiatan yang saya sukai dan membuat diri ini merasa bahagia, meskipun sebenarnya banyak sekali yang bisa membuat saya bahagia selain tiga hal diatas, walau sejatinya tak ada bahagia yang dibaliknya tak ada luka, namun bagiku tak ada luka yang perlu kita ratapi kalau kita bisa bahagia walau sebatas pura-pura”. Ada banyak hal yang bisa membuat kita bahagia, ada yang mau ngasih tambahan atau cerita perihal bahagia? Tulis dikolom komentar!

Oh iyaaa, kata seorang pendaki, “taraf kebahagiaan tertinggi adalah menertawakan temannya yang sedang menderita” betulkah itu?

Komentar