Sunrise di Kenteng Songo
Ahir juli 2018, saya berkesempatan untuk mendaki gunung
Merbabu untuk yang kesekian kali. Bagi kalian yang belum tau, Gunung Merbabu
adalah gunung yang terletak di Jawa tengah dengan ketinggian 3.142 mdpl. Untuk
mendaki gunung Merbabu ada beberapa jalur pendakian antara lain; via selo lama,
via selo baru (gancik), via suwanting, dan via wekas. Dari keempat jalur
tersebut yang paling mudah ialah jalur selo lama. Dipendakian ini saya hanya
diajak untuk mengantarkan teman saya yang baru pertama mendaki, maka saya
menyarankan melalui jalur selo lama. Kami berangkat ber lima. Dua orang belum
pernah mendaki, dan sisanya pernah beberapa kali.
sore hari di pos 2 gunung merbabu via selo
kami
berangkat dari jogja pukul 12 siang. Dan berencana memulai pendakian pada sore
hari. Karena sedang musim kemarau, jadi kemungkinan perjalanan siang akan
melelahkan karena terik matahari. Sampai basecamp pukul 3 sore, lalu kami briefing
sebentar sebelum memulai pendakian. Briefing
sebelum pendakian ini sangat penting
dilakukan. Karena setiap kegiatan harus dikomonikasikan dan direncanakan dengan
baik, termasuk kegiatan mendaki gunung. Dalam briefing ini yang pertama kali
dilakukan ialah menentukan siapa ketua kelompok. Dan dalam pendakian ini saya
yang menjadi ketua. Karena hanya saya yang sudah sering mendaki melalui jalur
ini.
dari kanan, mumtas, taufiq, firman, dan dana di gerbang pendakian
Saran
buat kalian yang hendak mendaki gunung, sebaiknya hal ini dilakukan. Supaya
pendakian kalian lebik nyaman, karena ada yang bertanggung jawab dalam
kelompok, yaitu ketua. Saya juga menyarankan beberapa yang hal yang harus
direncanakan dalam briefing sebelum mendaki gunung. Pertama, apabila ada orang
yang baru pertama kali naik gunung, sampaikan beberapa aturan dalam mendaki
gunung, seperti dilarang merusak tanaman, dilarang buang sampah sembarangan,
dilarang vandal, dilarang bicara kotor, dan lainnya. Hal ini bertujuan untuk
memahamkan kepada pendaki baru supaya kedatangannya tidak merusak alam dengan
alasan karena tidak tahu. Yang kedua ialah mengatur formasi pendakian dan
pembagian kerja dikelompok. Hal ini sangat penting untuk menjaga agar setiap
orang berperan dalam kelompok dan beban tidak tertuju pada beberapa orang.
Misalnya dalam kelompok harus ada yang menjadi pemandu jalan, kemudaian ada
yang bertugas sebagai sapu ranjau, ada yang bertugas menjadi portir, tugas
memasak dan lain sebagainya. Pembagian tugas juga harus disesuaikan dengan
kemampuan orang tersebut. Orang yang pertama mendaki jangan langsung diberi
tugas sebagai pemandu jalan atau sapu ranjau, karena hal itu sangat beresiko.
Yang ketiga manajemen logistik. yaitu membuat jadwal masak dan makan,
menentukan apa saja yang akan di masak, dan yang palin penting adalah manajemen
air. Misal dalam satu kelompok membawa 10 botol air, kalian bisa di bagi untuk
tracking sampai tempat camp 2 botol, utuk masak 4 botol, untuk summit attack 2
botol. Untuk turun 1 botol dan 1 botol untuk keadaan darurat. Pembagian bisa
bervariasi tergantung kebutuhan di gunung.
Lanjut
ke cerita, kami berlima memulai pendakian pukul 3 sore. Perjalanan dari
basecamp sampai pos 3 kami tempuh selama 3 jam. Kami benar-benar jalan cepat,
karena trek pendakian tidek terlalu susah. Sampai di pos 3 pukul 6 sore. Kami
langsung istirahat sejenak untuk makan bekal yang kami bawa dari bawah dan
ibadah sholat maghrib sampai pukul 18.30. 
perjalanan dari pos 1 ke pos 3 melewati hutan
Perjalanan
dari pos 3 menuju sabana 1 membutuhkan waktu 1 jam. Jaraknya tidak terlalu jauh
namun tanjakan lumayan curam dan licin karena berdebu, sampai sabana 1 sekitar
pukul setengah delapan. Kami memutuskan camp di sabana 1 dan berencana summit
attack pada pagi harinya pukul 3 dini hari. Rencananya sih mau melihat sunrise
dari puncak.
Bagi
kalian yang ingin melakukan summit attacak seperti yang kami lakukan, yaitu
summit attack dipagi dini hari. Saya punya tips buat kalian. Yaitu dengan membawa
agar-agar instan yang bisa kalian masak sebelum tidur, kemudian setelah bangun kalian
bisa sarapan dengan agar-agar yang telah kalian buat tanpa perlu repot memasak yang
menyita waktu. Kenapa agar-agar? Ya karena agar-agar tu simpel banget dan
mengandung banyak serat, bisa menunda lapar dan bisa sebagai asupan energi saat
melakukan pendakian menuju puncak.
Dari sabana
1 kami mulai summit attack pada pukul 3 dini hari. Saat summit attack kami
hanya membawa tas kecil untuk membawa air. Tujuan pertama kami ialah puncak
kenteng songo. Alasannya kerena puncak kenteng songo ini berada di sebelah
timur (ditimurya puncak triangulasi) sehingga cocok untuk melihat matahari
terbit. Perjalanan dari sabana 1 sampai puncak kenteng songo dapat kami tempuh
selama 1,5 jam. Perjalanan yang lumayan cepat. Sampai di puncak pukul setengah
lima pagi. Sesampainya di puncak kami langsung sholat subuh dan di lanjut menikmati
indahnya matahari terbit dari puncak gunung. Keindahan pancaran cahaya fajar yang
menembus kabut tipis dipagi hari menciptakan warna emas yang begitu indah. Mata
kami tak jemu-jemu memandangi lukisan alam semesta yang indah itu. Diujung horizon
matahari mulai perlahan naik memancarkan cahaya yang lebih terang lagi. Setelah
puas menikmati terbitnya matahari, kami beranjak melanjutkan perjalanan menuju
puncak triangulasi.
Sunrise di puncak kenteng songo
Sesampainya
di puncak trianguasi matahari sudah cukup tinggi. Pemandangan diatas puncak
triangulasi sangatlah indah. Karena cuaca sedang cerah-cerahnya. Jika menengok
ke arah selatan terlihat gunung Merapi yang berdiri kokoh. Selain gunung
merapi, kami juga bisa melihat gunung sumbing dan sindoro di bagian barat,
gunung andong dan gunung ungaran di bagian utara, dan gunung lawu ditimur.
gagahnya gunung merapi dari puncak triangulasi
Nah itu
cerita singkat dari pendakian merbabu versi saya dan beberapa saran serta tips dari
saya, semoga bermanfaat bagi kalian yang membaca artikel ini. Terahir, saya
berpesan, bertualanglah agar kamu tau bahwa dinia ini indah, tapi jangan pernah
mencoba merusak Alam, karena kita mungkin tak akan bisa hidup tanpa alam, tapi
alam akan tetap hidup walau tanpa adanya kita.
Salam lertari



Komentar
Posting Komentar