Sampah visual bikin sakit mata aja


Assalamualaikum warahmatulahi wabarokatuh
Halo pembaca, lama tak bersua, yah blog ala kadarnya ini sudah lama tak terisi dengan konten-konten garing dari penulis, kali ini saya sempatkan untuk menuliskan sedikit keluh kesah saya terhadap diri saya sendiri. Oh iya sebelumnya saya mau mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa, semoga mendapat keberkahan dibulan ini, aamiin, ok lanjut, kali ini bukan cerita tentang pendakian alay yang akan saya tuliskan seperti sebelum-sebelumnya, karena untuk mendaki saja tak sempat, apa yang mau ditulis?. Kali ini saya akan ceritakan keluh kesah saya dengan mrosotnya kualitas desain saya yang makin kesini makin amburadul, kemerosotan hasil desain ini disebabkan karena mengejar kuantitas sehingga menurunkan kualitas. Bisa dibilang bahwa akhir-akhir ini beberapa karya desain yang saya buat lebih cocok di sebut sampah visual daripada disebut karya seni, karena jika di pandang tidak ada indah-indahnya, hanya bikin sakit mata aja.
Saya akan ceritakan dulu bagaimana susahnya saya dulu membuat sebuah desain yang otentik, berawal dari membuat seketsa di kertas menggunakan pensil, kemudian ditebalkan, lalu di scan kemudian di buat vector secara manual, masih edit lagi, tak selesai di situ masih masuk ke tahap pewarnaan, edit lagi dan barulah jadi sebuah desain poster, pamphlet atau kaos yang saya buat, dan proses itu membutuhkan waktu satu mingguan, hanya untuk satu buah desain.
Sekarang beralih ke masa sekarang, masa dimana membuat desain tak lagi membutuhkan waktu selama itu, hanya beberapa jam pun sudah jadi, bahkan tak perlu repot-repot membuat sketsa di kertas dengan pensil. Semua itu karena sudah ada fasilitas yang menunjang pembuatan desain secara instant. Sebagai contohnya adalah freepik yang menyuguhkan ribuan desain berbasis vector ataupun psd yang disediakan secara GERATIS, kita bisa langsung mengunduh lalu di ubah sesuai konten dan jadilah sebuah desain yang menarik, atau layanan desain online seperti canva yang sangat mudah sekali di akses, atau wix logo maker untuk membuat logo secara instant. Dan masih banyak lagi yang membuat saya makin malas membuat desain yang otentik. Dengan kemudahan itu, sehari bisa saja membuat banyak desain dengan tampilan menarik.
Namun percayalah, dengan cara itu desain yang kita buat jadi tidak asyik, akan banyak desain yang ternyata serupa, ya kerena Cuma cari di freepik dan di edit dikit, menurut saya hal seperti itu akan membuat sakit mata aja, banyak desain yang serupa jadi seakan tidak ada kreatif-kreatifnya. Tak terpungkiri desain buatan saya sendiri yang hanya edit dari hasil unduhan vector di freepik, yang terlihat indah namun nyatanya sampah. Tapi mau bagaimana lagi? tuntutan keadaan memaksa saya untuk tetap menciptakan karya-karya sampah itu. Seiring bertambahnya usia, dan  mendekat pada taraf dewasa yang menyebalkan ini membuat saya semakin sibuk, bukan apa-apa, tapi semakin banyak yang harus ku kerjakan, banyak desain yang harus kuselesaikan dalam sehari, padahal seharusnya karya seni itu lahir dari inspirasi bukannya dipaksakan, kemudian tugas kuliah yang semakin hari semakin membentangiku dari kata bebas, bahkan membentengi ku untuk mendaki gunung lagi. Hah sialan. Dan masih banyak yang harus dikerjakan, entah apapun itu percayalah bahwa beranjak dewasa itu menyebalkan.
Keluar dari konteks kemrosotan kualitas desain yang saya kerjakan, banyak hal lain yang juga mulai berubah, jiwa tualang saya yang biasanya menggebu-gebu untuk mendaki gunung kini sudah tak terasa, sebagian besar waktu saya gunakan untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliah yang didalamnya serba ilmiah. Membosankan, ya tentu. Tapi itulah konsekuensinya hidup, taka da yang mudah untuk mencapai yang indah-indah, untuk menikmati pemandangan indah dipuncak gunung aja perlu perjuangan mendakinya terlebih dahulu. Percayalah semua akan indah pada waktunya

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Komentar

Postingan populer dari blog ini

malam ini ku mendaki dalam mimpi

Kawan Lama

Sebuah kisah tentang patah hati

Perihal bahagia (senja, kopi dan mendaki)

Setren Opak (tempat sendu pelepas pilu)

sebatang pohon

Kultur Angkringan Yang Mulai Pudar

Perjalanan tanpa ujung

touring (telaga sarangan)