Langkah Awal
Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati
meninggalkan belang, kalau yang mati saya? Apa yaa yang akan saya tinggalkan?
Hutang? Masalah? Atau, derita? Ahh, Stelah saya pikir-pikir saya tidak punya
apa-apa yang bisa saya tinggalkan. Katanya sih manusia pasti akan mati, tapi
tidak dngan pemikirannya, apabila ia menulisnya. Itulah alasan saya mulai
menulis hari ini dan mencoba mencantumkan di dalam blog saya ini. Dengan
harapan tulisan ini akantetap ada. Tidak dengan tulisanku yang pernah beberapa
kali saya tulis dan hilang karena salah tempat dalam menyimpan.
“Lalu,
apa yang akan saya tulis?” pertanyaan pertama saat saya berambisi punya banyak
tulisah yang bisa menginspirasi orang kala itu. Setelah berfikir lagi, saya
menemukan sesuatu yang menurut saya sangat berpengaruh dalam hidup saya, yaitu
mendaki gunung. Sudah bebrapa gunung aku daki sejak masih duduk di bangku SMA.
Setiap pendakian memililiki kesan dan pembelajaran yang berbeda-beda, dari
pendakian gunung aku belajar, lebih tepatnya belajar untuk hidup, tapi,
masalahnya adallah, kesan itu hanya terasa beberapa bulan setelah pendakian
kemudian hilang begitu saja. Berawal dari situ saya mulai tertarik untuk
menuliskan kisah saya setiap mendaki gunung. Kemudian mempostingnya ke dalam
blog. Siapa tau bisa di baca baca ulang atau setidaknya dari pendakian bisa
meninggalkan sesuatu berupa tulisan, dan siapa tau tulisan saya bisa
menginspirasi orang lain, itupun kalau ada yang baca sih. Hehehe
Dalam
tulisan ini saya akan menceritakan beberapa pelajaran yang saya dapatkan digunung
menjadi satu kumpulan perjalanan singkat, karena rasanya tidak mungkin saya menulis satu artikel untuk
satu perjalanan digunung. Saya masih terlalu malas untuk menulis. Masih amatir
juga sih, hemmm. Baiklah, beberapa pendakian gunung yang akan saya ceritakan
hanya beberapa yang saya ingat saja.
1.
Gunung Sumbing, 15 Oktober 2016
Gunung sumbing yang terletak di jawa
tengah merupakan gunung api dengan ketinggian 3.371 mdpl, gunung sumbing
merupakan gunung tertinggi ketiga se-Jawa setelah gunung Semeru dan Selamet.
Pendakian ini merupakan pendakian perdana bagi saya. Kami mendaki melalui jalur
via butuh, kali angkrik. Bagi saya pendakian ini sangat berat dan berkesan.
Pendakian pertama dan langsung ke gunung yang tinggi dan memiliki jalur yang
extream. Klompok kami terdiri dari 8 orang: Ginji, wawan, sektiaji, ahmad
mudatsir, Faizal, Putra, firman, dan saya sendiri, ahmad. kami saling kenal
karena satu sekolah, dan satu angkatan, dalam satu kelompok ini baru ginji dan wawan
lah yang pernah mendaki gunung. Kami ber delapan berangkat dari jogja pukul 7
pagi dan sampai di basecamp pukul 10 pagi, 3 jam perjalanan menggunakan sepeda
motor. Sesampainya di basecamp kami istirahat, makan, dan packing ulang.
Packing kami pun masih asal-asalan (wajar pertama kali ndaki). Rencananya kami
mulai mendaki setelah sholat dzuhur, pukul 12 siang. Tapi berhubung hujan turun
lumayan deras, kami menunda sejenak, baru setelah hujan reda sekitar jam 1
siang kami mulai mendaki gunung. Dari basecamp menuju pos 1 medan berupa tangga
yang rapi dan di sekitar jalur terdapat pemandangan sawah yang indah, di
perjalanan menuju pos 1 ini sangat melelahkan karena licin dan belum terbiasa
dengan beban ceril yang berat, saya sempat putus asa, tapi karena tekat yang
kuat dan ambisi sampai puncak. Ahirnya pos 1 terlampaui, perjalanan menuju pos
2 jalur pendakian yang awalnya tangga berganti menjadi jalur tanah yang licin
karena sehabis hujan. Perjalanan semakin berat, sehingga kami jadi sering
berhenti untuk istirahat.sesampainya di pos 2 sekitar pukul 5 sore. Lanjut
perjalanan dari pos 2 menuju pos 3, jalannya landai, dan kami lebih sedikirt
istirahat, di tengah perjalanan ada mata air, kami mengisi botol yang kosong
untuk kebutuhan di atas, perjalanan terasa lamaa sekali dan tak sampi-sampai,
hari makin malam dan cuaca makin dingin. Rasanya ada yang janggal. Seperti
melewati jalan yang sama berulang ulang. Pos 3 pun ahirnya ketemu dan kami
hanya lewat saja langsung menuju pos 4. Tepi perjalanan masih terasa lama
karena badai datang. Kamipun menyerah dan mendirikan tenda sebelum sampai pos
empat pada pukul 10 malam, dan sialnya tempat kami mendirikan tenda adalah
tanah yang miring, sehingga tidak nyaman untuk istirahat, ditambah lagi dengan
pakaian dan peralatan yang basah semua karena kehujanan mambuat kami semua
kedinginan. Untung saja tidak ada yang hippotermia. Paginya singkat kami
langsung summit attack dan alhamdulilah sampai puncak. Sebuah kebanggaan untuk
saya sandiri. Setelah itu kami langsung turun dan selamat. Ternyata ada yang
janggal dari pendakian ini. Jalur dari pos 2 smpai pos 4 terasa berbeda. Saat
berangkat terasa lama dan seperti melewati jalan yang sama tapi saat turun
jaraknya terasa dekat dan tidak terlalu lama, kami menyimpulkan bahwa saat berangkat
kami diganggu makhluk ghaip. Hahaha. Asumsi teman saya itu. Nah, dari pendakian
ini, pelajaran yang dapat saya ambil adalah tetaplah fokus saat pendakian,
tetaplah berfikir positif, baik itu di gunug maupun di kehidupan sehari-hari.
Mungkin kami di perjalanan naik terasa lama karena tidak fokus dalam
perjalanan. Hanya memikirkan hasil atau tujuan yang akan kita capai. Makanya
terasa lama karena tidak fokus dengan prosesnya. Pelajaran yang lain yaitu
jangan mudah menyerah. Karena hasil tidak akan menghianati usaha. Meskipun
sebenernya saya sempat kapok naik gunung sih setelah pendakian pertama saya
itu.
Puncak Sumbing, pendakian perdana
2.
Gunung Merbabu, 24 April 2017
Setelah beberapa bulan saya kapok naik
gunung karena pengalaman di sumbing itu. Ahirnya saya kembali tertarik mendaki
gunung lagi. Kali ini saya akan mendaki gunung merbabu, ketinggian 3.142 mdpl
dan terletak di Jawa Tengah ini katanya lebih enak didaki dan cocok untuk
pemula. Setidaknya tidak sesulit pendakian di Sumbing. Anggota kelompok kami
masih sama tapi berkurang 2 orang, yaitu faizal dan putra, mungkin ia
benar-benar kapok naik gunung. Kami berangkat melalui jalur selo. Singkat
cerita perjalanan berjalan lancar dan kami memutuskan camp di sabana 1.
Pendakian ini cukup mudah meski dimalam hari di sabana 1 kami diterjang badai
hingga beberapa pasak tenda kami lepas. Pagi harinya cuaca kembali bersahabat
sehingga kami bisa melanjutkan sampai puncak. Dari pendakian ini saya menjadi
suka dengan kegiatan naik gunung setelah sebelumnya kapok dan benci hidup di
gunung. Pemandangan yang indah di
merbabu membuatku selalu rindu untuk kembali naik gunung. Pelajaran yang dapat
di ambil dari pendakian ini adalah jangan membenci suatu hal. Karena bisa jadi
sesuatu yang kau benci itu ahirnya kau cintai. Begitupun sebaliknya
Jalur menuju puncak merbabu
3.
Gunung Sindoro, 13 Juli 2017
Tiga bulan berlalu, langkah kami ber enam membawa kami ke
gunung sindoro dengan ketinggian 3.153 mdpl. Alasan kami naik gunung kali ini
karena rindu dengan petualangan. Kali ini kami mencoba hal baru. Yaitu
perjalanan malam. Kami mendaki sindoro via kledung, dari basecamp kami
berangkat pukul 5 sore dan mendapatkan tawaran ojek yang bisa mengantar sampai
atasnya pos 1. Tapi kami memilih berjalan santai menikmati pemandangan yang
terlalu mubadzir jika hanya dilihat sebentar karena perjalanan yang cepat
menggunakan ojek. Perjalanan malam merupakan sensasi baru bagi kami. Nafas
makin berat karena oksigen menipis, harus hati hati karena gelap, dingin yang
lebih terasa di kulit, dan lebih mengesankannya lagi kami ketemu babi hutan.
Perjalanan santai masih berlanjut, saat melihat peta tertulis bahwa sebelum
puncak jalur melewati ladang edelweis yang indah, kami bersemangat setelah
mengetahui itu dari peta. Kerinduan kami dengan edelweis mungkin akan terbayar.
Pukul sebelas malam kami sampai di pos 3.
Kami memutuskan camp disini, uniknya di pos 3 terdapat warung, penjualnya adalah istri dari mbah kuat. Mbah
kuat ini adalah penduduk lokal yang setiap hari mendaki dari bawah sampai pos 3
untuk menyetor dagangan. Padahal jarak sampai pos 3 ini lumayan jauh. Dan
beruntungnya kami beremu dengan mbah kuat ini. Kami ngobrol bayak dengan
beliau. Ceritanya sangat menginspirasi, tapi saya males nulis di sini. Kalau
penasaran besok ke sindoro aja, cari mbah kuat trus minta di ceritain. Hehehe.
Ok, lanjut ke cerita pendakian. Paginya kami summit attack dan sempat sedikit
kecewa karena ladang edelweis yang di tulis di peta hanya PHP, kenyataannya
pohon edelweisnya udah mati semua karena sangat dekat dengan puncak yang ada
belerangnya. Kemungkinan pohon itu mati karena asap belerang. Tapi tidak apa
lah. Pohon edelweis yang mati itu juga tetap indah kok. Dari pendakian ini saya
belajar bahwa jangan terlalu berharap lebih bila kau belum siap kecewa.
Ladang edelweis yang sudah mati gunung Sindoro
4.
Gunung Prau 20 Oktober 2017
Mendaki gunung ahirnya menjadi hobby yang menyenangkan.
Kali ini saya mendaki lagi namun dengan satu orang baru dalam kelomok. Kelompok
kami hanya terdiri dari 4 orang: sektiaji dan ahmad mudatsir ( teman di
pendakian sebelumnya), saya, dan poting, orang baru. kami melakukan pendakian
dimalam hari lagi, pendakian ini biasa aja sih, yang luar biasa tu pemandangan
prau yang sangat indah. Ya Cuma itu aja sih, bingung mau cerita apa. Kami
terlalu sibuk berfoto dengan pemandangan yang indah, sehingga makna perjalanan
jadi terabaikan. Pelajaran yang dapat di ambil yaitu, pendakian bukan soal
seberapa bagus foto yang di dapat, tapi seberapa bagus kesan dan kenangan yang
tercipta dari pendakian itu.
Bukit teletubis gunung Prau
5.
Gunung Andong 27 Desember 2017
Rizki temanku yang merantau ke madura karena mengikuti
orang tuanya bekerja, kini sedang pulang kampung karena sedang libur semester.
Nampaknya ia tertarik dengan kegiatan mendaki gunung. Ia mengajakku mendaki
sebuah gunung yang tidak terlalu tinggi dan mudah didaki. Tanpa pikir panjan
pilihanku tertuju pada gunung andong, dengan ketinggian hanya 1.692 mdpl. Kami
hanya mendaki berdua. Yaa setidaknya bisa mengenalkan gunung pada temenku itu.
Yang sangat berkesan dari pendakian ini ialah saya lebih banyak ngobrol dengan
orang baru, karena hanya mendaki berdua sehingga tidak terlalu fokus dengan
kelompok sendiri.
Puncak Andong
6.
Gunung Merbabu 16 Januari 2018
Gunung merbabu emang bikin rindu. Itulah alasanku mendaki
ke merbabu lagi. Kali ini aku mencoba lewat jalur gancik, niatnya sih mau lewat
selo tapi malah salah belok dan alhasil kami lewat jalur gancik atau selo baru.
Jalurnya tidak jauh beda dengan selo lama, jadi tidak masalah bagi kami.
Pendakian ini adalah pendakian pertamaku bersama cewek. Pikirku sih apabila
membawa cewek dalam rombongan akan memperlama perjalanan, dan nyatanya benar.
Tapi dengan adanya cewek dikelompok kami, saya malah jadi semangat, soalnya
yaa, yaa gitu deh, oh iya, kami berangkat ber empat dalam satu kelompok.
Keempat orang itu ialah Aswan, temanku SMA, kemudian dua cewek yaitu Keny dan
rima, mereka teman sekelas kuliah dan saya, Ahmad. pendakian ini menurutku
adalah pendakian paling asal-asalan. Keny dan rima yang baru pertama kali naik
gunung itu bawaannya banyak dan memaksa harus packing ulang. Selain itu saya juga
ceroboh saat packing ceril yang saya gendong sendiri, waktu itu musim hujan,
aku lupa mengcover isi tas dengan trashbag, menata isinya pun asal-asalan.
Perjalanan dari basecamp sampai pos 3 aman-aman aja. Lah di tanjakan dari pos 3
menuju sabana 1 kami mendapat hadiah dari alam berupa badai, waktu itu hari sudah
beranjak malam. Sialnya aku tadi lupa tidak meng cover isi ceril dengan
trashbag, yah sudah pasti seiisi tas basah semua karena dengan coverbag saja
kemungkinan air masih tetap tembus. Hujan makin deras bersamaan itu kabut tebal
menyelimuti kami. Tanjakan curam yang kuberi nama tanjakan sialan itu terasa
licin. Di sisi kanan ada jurang yang menungguku terperosok jika saja ceroboh.
Beban ceril terasa berat karena basah. Dan terasa semakin berat karena harus
jalan pelan-pelan menunggu teman teman saya yang jelannya lambat, wajar lah
baru pertama naik gunung. Dan sebenarnya yang membuat saya merasa berat adalah
ego saya sendiri. Yang ingin sepat cepat sampai, rasanya ingin ku gendong
mereka semua supaya cepat jalannya. Tapi saya sadar, kebersamaan lebih utama, kami
jalan pelan-pelan dan ahirnya sampai di sabana 1. Kemudian camp disitu. Saat
mendirikan tenda hujan masih berlangsung. Lagi-lagi saya ceroboh. saya langsung
memaksaan mendirikan tenda tanpa membuat bivak terlebih dahulu untuk teman-
teman saya berteduh. Alhasil mereka menunggu tenda berdiri sambil
hujan-hujanan. Dipagi harinya kesalahan saya lagi, hampir saja tenda kebakar
gara-gara saya mencoba menyalakan kompor didalam tenda. Penyebabnya adalah
kompor rusak, akibatnya kami tidak bisa sarapan. Meski tidak sarapan kami tetap
memaksakan untuk summit attack, dan ahirnya kami sampai puncak, meski di atas
hanya dapat kabut. Menurutku ini pendakian tersial yang pernah saya alami.
Namun walau sial tapi kenangan yang terukir tetap indah, karena ada si dia.
Hehehe. Dari pengalaman itu, dapat diambil pelajarannya bahwa setiap hal itu
harus disiapkan dengan sematang mungkin. Tidak hanya dalam pendakian, tapi
semua hal dihidup ini.
Watu lumpang gunung merbabu
7.
Gunung Merapi 7 April 2018
Gunung merapi adalah gunung teraktif di Indonesia, dengan
ketinggian 2.930 mdpl. Kali ini saya mencoba untuk menakhlukan puncaknya meski
sebenarnya batas pendakian aman hanya sampai pasar bubrah. Kami berangkat
berlima: jati, misbah, garry, gambit dan saya. Pendakian ini sangat kacau,
kelompok terpisah jauh. Garry dan gambit tertinggal jauh di belakang. Sementara
misbah dan jati di depan. Saya pun mengikuti yang didepan. Ketidak kompakan
kelompok ini disebabkan oleh keegoisan kami masing-masing yang berambisi sampai
puncak. Saat kelompok yang di depan termasuk saya sampai pasar bubrah kami
mendirikan tenda. Dan tiba-tiba badai menghampiri. Gary dan gambit tertinggal
jauh entah dimana. Kami bertiga khawatir. Tapi untungnya mereka berdua bertemu
dengan teman kami, jarwo dan troy. Mereka camp di pos 2. Sangat jauh sekali
dari pasar bubrah. Di pendakian ini saya berhasil menaklukan puncak. Tapi tidak
ada yang bisa dibanggakan, karena kekompakan kelompok kami sangat kacau. Kami
lebih mengutamakan ambisi sampai puncak dibanding kebersamaan kelompok. Padahal
indikator keberhasilan dari mendaki gunung bukanlah berdiri di atas puncak,
tapi kembali pulang dengan kelompok yang masih utuh. Yaa kami memang pulang
dengan kelompok yang masih utuh. Tapi menrut saya masih gagal karena dalam mengejar
puncak kita tak lagi peduli dengan kelompok.
Pasar Bubrah gunung Merapi
8.
Gunung Merapi 21 April 2018
Dua minggu lalu saya sudah mendaki gunug merapi, dan kali
ini mendaki lagi, dengan orang yang berbeda lagi, saya, syaiful, tika, dan ari.
Sebenarnya saya tidak ingin menulis ini karena di atas sudah ada tulisan
tentang pendakian di merapi. Tapi di pendakian ini saya belajar packing yang
baik dan benar. Karena salah satu teman kami ini adalah anak mapala. Sebelum
mulai mendaki saya sempat mendapat ceramah dari anak ini karena cara packing
saya yang asal-asalan. Wajar lah saya bukan anak mapala, mana tau kaya gituan
hehehe. Tapi setidaknya setelah itu saya jadi tau packing yang baik dan benar.
Untuk pendakiannya ya biasa saja, mungkin terasa sepesia bagi kedua cewek dalam
kelompok kami yaitu tika dan ari. Karena tanggal itu bertepatan dengan hari
kartini.
Pos 2 gunung Merapi
9.
Gunung Andong 12 Mei 2018
Yahh, Andong lagi. Baiklah saya tidak akan bercerita
tentang pendakian ini. Saya hanya ingin mengenalkan teman saya si pendaki kusam.
Namanya ialah taufiq hidayat ( bukan pemain bulu tangkis) sebenarnya pendakian
ini tidak terencana, rencana awalnya sih saya mau ngajakin temen kelas saya ke
prau, sudah direncanakan dengan matang tapi tiba-tiba gagal karena merapi
sedang erupsi dan semua yang kua ajak tidak mendapat izin dari orang tua karena
khawatir ada apa-apa. Ahirnya pendakian kami cencel. Berhubung saya sudah
mempersiapkan benyak hal termasuk waktu, rasanya mubadzir kalau tidak jadi naik
gunung, ahirnya mendadak ku ajak tuh anak naik, Cuma berdua dan dadakan. kenapa
pilih andong? Ya karena gunungnya pendek dan kami tak perlu bawa tenda. Naik
dini hari, sampai puncak subuh, liat sunrise, sarapan, lalu turun.
Puncak Alap-alap gunung Andong
10.
Gunung Andong 1 Juli 2018
Pendakian kali ini hanyalah pemanasan. Seminggu sebelum
saya mendaki ke semeru saya sempatkan pemanasan digunung andong. Selain
pemanasan dengan joging dan renang, saya juga harus pemanasan di gunung juga,
dengan mengajak 4 cewek otomatis barang yang dibawa banyak dan cukup membuat
ceril saya jadi berat, ditambah lagi perjalanan yang pelan. Tapi itu cocok
untuk membiasakan tubuh supaya kuat saat mendaki di semeru
Gunung Andong
11.
Gunung Semeru 6 Juli 2018
Gunung tertinggi dipulau jawa dengan ketinggian 3.676 mdpl
ini ialah mimpi saya sejak SMA. Dipendakian ini saya benar benar belajar
tentang banyak hal. Meski mimpiku untuk berdiri di puncak tertinggi pulau jawa
belum terwujud. Kami gagal sampai puncak karena badai menghalanginya. Namun
pendakian ini sangat berkesan. Banyak pelajaran yang saya dapat antara lain;
tentang arti kebersamaan. Makna dari penikmat alam yang mengaku pecinta alam,
belajar peduli, belajar menerapkan kebiasaan baik digunung untuk diterapkan
dalam kehidupan sehari-hari. Den banyak hal lainnya. Selain itu saya juga
bertemu dengan orang-orang yag sangat menginspirasi.
Kali mati gunung semeru
12.
Gunung Merbabu 26 Juli 2018
Melepas rindu dengan mendaki merbabu, kali ini saya hanya
berniat mengantar teman yang katanya pingin banget mendaki gunung. Pas banget
waktu itu cuaca sedang cerah-cerahnya. Jadi merbabu benar-benar terlihat indah.
Meskipun jalur berdebu dan licin karena sedang musim kemarau. Kami berlima:
taufiq, dana, firman, mumtaz dan saya. 2
puncak merbabu kami singgahi, yaitu Kenteng songo dan triangulasi. Seperti
biasa saya mengajajak lewat jalur selo lama dan camp di sabana 1. Kita berniat
melihat sunrise di puncak, pukul 3 pagi mulai summit attack dan subuh sampai
dipuncak kenteng songo. Kemudian setelah matahari lumayan tinggi lanjut ke
puncak triangulasi kemudian turun.
Gagahnya Merapi dilihat dari Puncak Merbabu
Nah
itu tadi beberapa kisah singkat tentang perjalanan saya mendaki gunung, banyak
sekali kesalahan yang saya lakukan dari beberapa pendakian. Namun dari
kesalahan itu saya jadi belajar. Pesan dari saya ialah, bertualanglah, dan
jangan takut tersesat, karena saat kita tersesat kita akan menemukan diri kita
yang sebenarnya.












Komentar
Posting Komentar