touring (telaga sarangan)


Assalamualaikum. Wr. Wb
            Setiap orang pasti punya kisahnya tersendiri dalam melewati hari raya idul fitri. Beberapa orang hanya menikmati kisah luar biasanya dengan melewati begitu saja dan hanyut ke dalam euforia kemeriahan bermaaf-maafan dan bertemu dengan sanak saudara. Namun beberapa orang juga ingin membagikan secuil kisah kebahagiaannya menyambut hari raya dengaan membagikannya melalui story media sosial atau bahkan menuliskan cerita kemeriahannya melalui tulisan-tulisan, dan mungkin saya salah satunya.
            Bulan Ramadan kali ini rasanya berjalan sangat cepat, kayaknya baru sebulan kemaren awal puasa eh ini udah lebaran aja. Dan parahnya selama bulan ramadhan saya punya kebiasaan buruk, yaitu tidak pernah sarapan, hedehh, jangan ditiru ya kawan-kawan. Sialnya, puasa kali ini tidak sesuai dengan ekspetasi saya, pinginnya sih bulan puasa nggabut, seharian di rumah, tiduran di hammock, membaca novel, melihat senja, minum kopi, ehh batal geblek, yaa gitu lah. Tapi apalah daya, realita tak sesuai ekspetasi, selama bulan puasa banyak yang harus dikerjakan, dan disitulah saya mulai merasa bosan dan butuh liburan. Makanya setelah lebaran rencananya mau langsung jalan-jalan.
            Beberapa hari sebelum lebaran saya diajak untuk ikut touring di hari ke 2 lebaran, saya pun pikir-pikir dulu, setelah mikir akhirnya saya tetap bingung, yaudah lah besok kabar-kabar lagi. Dan akhirnya malam takbiran saya baru mantap pingin ikut, yaa ikut-ikutan aja lah, iseng. Oh iya, touring ini adalah touring tahunan setelah lebaran yang biasanya dilakukan oleh remaja kampung saya, dan baru kali ini saya ikut karena baru tau, ya wajar saja di kampng saya sedikit terisolir karena kurang nongkrong sama remaja dikampung, sebab terkendala waktu dan harus ngurusi entah apa diluar sana.
            Na’asnya rencana ikut touring ini hampir saya batalkan, karena saat lebaran hari pertama setelah sholat ied dan berkunjung ke sanak saudara saya sempat drop dan kecapekan, sebab sudah 3 malam terakhir tidak tidur semalaman karena ada tugas yang harus dikerjakan, malamnya pun saya sudah nggak kuat ngapa-ngapain karena lemes, alay sih tapi yaa udah gak ada daya, syawalan di masjid pun bikin tambah puyeng, setelah sawalan langsung terkapar dan tidur gasik. Beruntungnya berkat tidur gasik dan cukup lama akhirnya bangun-bangun udah sehat kembali, pagi-pagi langsung cuss lah ikut touring. Tujuan touring kali ini adalah telaga sarangan yang terletak di Kabupaten magetan jawa timur. Kami berangkat ber dua, cieee, eh dua belas maksudnya, nahh, dua belas orang. Karena saya Cuma ikut-ikutan ya saya nebeng aja lah, si supri tak tinggal rumah (supri itu motor saya, Honda supra warna biru, disingkat supri, SUPRa bIru). 
setibanya kami di telaga sarangan, ternyata rame

            Kami berangkat jam 7 pagi dari jogja, pagi itu udara sangat dingin – sedingin sikapmu – dan berkabut, saya yang hanya menggunakan kemeja flannel, jadi merasa salah kostum karena pake flannel masih terasa dingin, padahal biasanya kalau dingin gini pake kemeja flannel ya tetep dingin sih, tapi gak papa dinginnya udara pagi ini bisa menurunkan panasnya api cemburu yang membara ketika melihatmu jalan dengannya – eh anying malah gimana sih, malah menye-menye, mbok piker aku fall in love with people we can’t have? Ya nggak lahh, nggak salah. Ok lanjut, kami berjalan (pake motor) beriringan menembus kabut pagi, jalanan masih sepi sepagi itu. Kami dari desa parangtritis berjalan menuju timur ke arah siluk lalu naik menuju arah panggang dan seterusnya. Rute yang kami lewati ialah jalan wonosari, kami memilih jalan ini karena berharap gak kena macet walau harus naik turun gunung. Selain itu kami juga menghindari jalan jogja solo, sebab kami yakin jalan jogja solo macet – kaya kisah asmaramu, macet ditengah jalan. 
kabut yang kami terjang pagi itu

            Sesampainya di wonogiri kami berhenti sebentar karena capek berkendara naik turun gunung, yang mboncengin saya pun kecapekan terus minta gentian, yaudah lah gak papa, tinggal separuh perjalanan lagi, pikir saya. Oh iya motor yang saya naikin ini unik teman-teman, karena ini motor bebek tapi tangki bahan bakarnya di depan, tepatnya dibawah stang, terus bagasi di jok nya lebar banget, muat buat naroh bayi, terus tarikannya juga joss karena motor ini dibekali dengan mesin 130 cc, selain itu motor ini ber roda dua dan tidak ada ban serepnya, ya iyalah – ini malah review motor napa anying – ya intinya itu lah, unik, kalau penasaran itu motor apa tak kasih tau aja, itu motor Kawasaki ZX, goggling aja kalau penasaran.
            Perjalanan pun kami lanjut setelah cukup istirahatnya, ketika nanjak menuju tawangmangu, salah satu motor rekan kami ada yang mesinnya mati karena nggak kuat menanjak tanjakan yang curam securam tikungan teman. Dan akhirnya kami satu rombongan berhenti dulu untuk mendinginkan mesin. Setelah dingin kami lanjut perjalanan dan sampailah di telaga sarangan pada pukul 12.30 WIB. Jadi total perjalanan ialah 5,5 jam. Meleset dari perkiraan yang harusnya hanya 5 jam. Harga tiket masuk kawasan wisata ini hanya Rp 19.000 dan Rp 1.000 untuk asuransi, sehingga total hanya membayar Rp 20.000 saja untuk satu orang, namun jika kalian datang berdua maka kalian cukup membayar Rp 40.000 saja, cukup murah bukan? Wkwkwkwk. Setelah masuk di kawasan wisata kami langsung menuju tempat yang wajib dikunjungi pertama kali saat memesuki kawasan wisata, yaitu parkiran, untuk memarkirkan motor karena gak mungkin kami bawa terus motornya. Setelah puas memarkirkan motor kami segera bergegas menuju mushola untuk menjalankan ibadah sholat dzuhur dan dijamak dengan asar, kami suka perjalanan jauh karena bisa sholat dijamak kosor, kan enak, wkwkwk. 
pemandangan dari tawangmangu

            Sayang sekali kami detang disaat lebaran gini, jadi ramai pengunjung, padahal kami kira hari kedua lebaran masih sepi. Yaudah lah nggak papa, jangan disesali, besok kalau pingin sepi kesininya pas malam hari atau setelah kiamat, gak mungkin dong wkwkwk. Di telaga ini ternyata air telaganya tidak tenang seperti yang saya duga-duga, telaganya bergelombang karena terhempas perahu kencang atau bahasa dikampung saya speed boat yang berlalu lalang dengan sangat ugal-ugalan. Saya pun tertarik mencoba naik speed boat ugal-ugalan yang njamping-njamping nabraki banyu bergelombang – duh bahasanya jadi amburadul – ya intinya saya tertarik dan benar saja, menaiki speed boat ditempat ini memacu adrenalin, lihat di sini secuil keseruan naik speed boat.
itu namanya speed boat kan ya? nah aku naik kaya gituan

            Harga untuk naik speed boat hanya 60 ribu satu putaran dan 120 ribu untuk 3 kali putaran telaga sarangan, untuk sewa satu speed boat beserta drivernya dan satu speed boat muat 4 orang, jadi kalau mau iuran satu orang hanya 15 ribu untuk satu putaran. Kami coba satu putaran dulu dan ternyata anjay sekali, rasanya kaya naik mobil yang sedang drifting – padahal belom pernah, tapi pernah liat di yutup kayaknya rasanaya terpontang-panting – lah ini juga sama, badan terpontang-panting ke atas, bawah, kiri, kanan, depan, belakang, nungsep dll. Jantung mau copot rasanya – ini Cuma hiperbola aja sih, sebenernya biasa aja gak usah alay gitu – tapi asyik pokoknya kaya sedang drifting diatas air.
            Setelah asyik naik perahu ugal-ugalan perut terasa lapar. Karena lapar kami pun makan di warung sekitaran telaga, saya pun tertarik dengan salah satu menu yang ada di situ, yaitu sate kelinci, sebenarnya sedikit kurang tega kalau mbayangin itu daging kelinci yang imut-imut itu, tapi gak papa lah bodo amat, pingin nyoba aja, ternyata rasanya enak, gak beda jauh sama sate ayam sih, hanya saja dagingnya lebih empuk. Untuk menikmati satu porsi sate kelinci yang isinya 10 tusuk beserta sepiring nasi ini kalian hanya perlu mengeluarkan kocek Rp 18.000 aja ditambah teh anget Rp 4.000 atau minuman lain biar nggak seret makannya.
sate kelinci

            Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore, kami langsung bergegas pulang dan tak sempat ke objek wisata lain karena keburu malam, na’asnya saat pulang motor yang saya naiki berboncengan rantainya lepas saat turun dari tawangmangu. Untung ada seorang yang bisa mbenerin motor karena punya bengkel di rumah dan membawa peralatan bengkelnya, namun sial sekali kunci yang dibawa hanya ukuran pas untuk merk Honda dan Yamaha, sementara ini motor Kawasaki yang ternyata beda ukuran, ya sudah lah untungnya ada bengkel di dekat situ, kami berhenti sejenak di bengkel. Saat berhenti seorang rekan kami kecapekan, padahal dia pakai motor sendiri dan tidak ada yang mau mboncengin, akhirnya saya ganti motor mboncengin orang tadi, dan yang pakai Kawasaki ZX motoran sendiri. Kami lanjut perjalanan pulang, sayangnya navigator kelompok kami ngantuk sehingga lupa belokan jalan alternatif, alhasil kami jalan sampai karanganyar – duh saya dulu sehabis ndaki lawu juga demikian, harus lewat kota ini, pasti macet.
jalan di tawangmangu berkabut

            Benar saja kami kena macet di jalan arah kota solo, untung kami nemu jalan alternatif ke arah wonogiri, dan sampai masjid tempat kami istirahat siang tadi tepat saat adzan maghrib, kami pun berhenti untuk sholat dulu, dijamak sama isya dong, hehehehe. Setelah sholat kami lanjut perjalanan. Oh iya, perlu kalian ketahui ya, perjalanan pulang kali ini saya mboncengin orang pake motor Honda cs 1, perlu saya review lagi gak ni? Gak usah yaa, intinya saya mau sambat, soalnya saya kena macet dan tau sendiri kan kalau pakai motor koplingan dan macet, apa lagi ini koplingnya keras dan tuas gasnya berat, hedehhh, pegel banget nih tangan ngeremes-remes tuas kopling. Apalagi saat udah masuk jalan jogja solo, macetnya minta ampun, bangsad pokoknya, dari klaten sampai prambanan yang bisa ditempuh 20 menit saat lalulintas normal ini sampai sejam lebih banyak, baru jalan 10 meter berhenti jalan lagi berhenti lagi, tangan sampai pegel poll, hedehh, dan rombongan pun terpecah, saya untungnya duluan karena sedikit ugal-ugalan, untung yg saya boncengin orangnya gak takutan kalau diajak ngeliuk-liuk di antara kemacetan.
            Jadi keinget kata temen saya yang ikut toring ini tadi di telaga sarangan, saat ditanya “kenapa pacarnya nggk di ajak?” ternyata jawabannya keren, “ gah, ribet, ko ng dalan muk crewet wae nek nyalip kiwo tengen, raiso ngebut aku” nah gitu – artiin sendiri ke bahasa Indonesia lah, bingung aku – dasar cowok, untung pacarku nggak crewet kalau di jalan, hehehe – eh sek-sek, emang aku ndue pacar? Duh maaf ini nulisnya sambil setengah tidur jadi kisah di mimpi agak terbawa. Ya gitulah cewek, wajar suka panikan, tapi kalau mbonceng rasanya nakutin sih kalau ugal-ugalan, beda sama yang mboncengin, rasanya biasa aja – seperti perasaanmu padaku, biasa aja.
            Akhirnya setelah perjalanan panjang yang menyebalkan dan penuh derita dipantat, kami sampai juga di jogja pukul 9 malam. Tak langsung pulang kami mampir dulu di warung bakmi godog untuk mengisi perut, sambil ngobrol sampai malam bangeet lalu pulang. Emm di akhir tulisan ini tak kasih puisi aja po yaa, biar kaya tulisan di blog milik mbaknya yang itu, wkwkwkwk

dikala matamu lelah menatap kenyataan
jiwamu gundah merasakan penderitaan
hatimu sakit dengan kisah cinta-cintaan
lakukan perjalanan
untuk melepas segala beban penderitaan
dunia diluar sana mengagumkan
pemandangan indah begitu menawan
namun jangan lupa minum obat sariawan

haes ra nyambung, biarin lah, udah yaa sekian mohon maaf lahir batin ya teman-teman (mumpung masih suasana syawalan)
Wassalamualaikum. Wr. Wb.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

malam ini ku mendaki dalam mimpi

Kawan Lama

Sebuah kisah tentang patah hati

Perihal bahagia (senja, kopi dan mendaki)

Setren Opak (tempat sendu pelepas pilu)

sebatang pohon

Kultur Angkringan Yang Mulai Pudar

Sampah visual bikin sakit mata aja

Perjalanan tanpa ujung