Pelan-pelan, Part 3 (Pendakian)
Akhirnya
kami memutuskan untuk mendaki gunung prau, jumat pagi kami segera packing
dadakan, segera melesat dari jogja menuju Dieng menggunakan sepeda motor, kami
belum menentukan akan mendaki melelui jalur mana, karena kami masih bingung,
ahirnya kami berangkat dulu ke dieng dengan petunjuk google maps sembari
memikirkan jalur pendakian yang akan kami lalui, naasnya kami dilewatkan jalan yang lumayan
menyusahkan. Setelah sampai dikota temanggung perjalanan yang awalnya jalan
mulus kini berganti dengan jalan kecil berkelok-kelok dengan lubang
disana-sini. Tanjakan yang cukup curam membuat kami harus mendorong motor
beberapa kali karena tidak kuat. Saking ekstrimnya jalan yang kami lalui, teman
saya sampai jatuh karena tergelincir jalanan yang rusak, kami sempat panik.
Untungnya lukanya tidak terlalu parah, sehingga masih kuat melanjutkan
perjalanan dan mendaki gunung.
Berhubung
waktu itu hari jumat, dan hari sudah beranjak siang, kami segera menepi
disebuah masjid untuk melakukan sholat jumat. Ternyata jalan yang kami lalui
ini berada dikaki gunung sindoro, hal itu kuketahui karena masjid tempat kami
berhenti ternyata dekat dengan basecamp pendakian sindoro via gedhangan.
Setelah sholat jumat kami segera melanjutkan perjalanan, kabut tebal
menyelimuti pegunungan itu, membuat kami harus berjalan pelan karena jarak
pandangnya yang teramat dekat karena tertutup kabut pekat, setelah beberapa
waktu kabut mulai menyingkir, pemandangan yang awalnya tertutup kabut kini
terlihat sangat indah. Hamparan kebun teh dikanan-kiri jalan yang kami lalui.
Beberapa teman mengajak untuk berhenti sejenak untuk berfoto karena tidak tahan
melihat indahnya hamparan kebun teh dan ingin segera memamerkannnya disosial
medianya.
Sesampainya
dijalan yang sudah hampir dekat dengan dieng, tiba-tiba turun hujan, kami
berteduh sejenak disebuah lapak yang kebetulan sedang tutup, sembari menunggu
hujan reda kami membahas jalur pendakian yang akan kami lewati. Ditempat kami
berteduh itu aku merasa tidak asing dengan tempat itu, ternyata tempat itu
dekat dengan basecamp pendakian prau via patak banteng, yaitu jalur pendakian
yang pernah saya lewati bulan oktober setahun yang lalu. Lalu saya mengusulkan
untuk lewat jalur itu, semua teman menyetujui, lalu kami segera melesat menuju
basecamp. Sesampainya dibasecamp kami segera istirahat sejenak sambil packing
ulang dan makan siang.
Waktu
sudah menunjukkan pukul 2 sore, kami segera melakukan registrasi dan bersiap
melakukan pendakian. tiba-tiba hujan kembali turun dengan deras, karena malas
berbasah-basahan, akhirnya kami menunggu hingga hujan reda. Setelah kurang
lebih satu setengah jam, akhirnya hujan reda, dan kami segera melakukan
pendakian. aroma petrikor menemani langkah kaki menapaki tangga dan tanah jalur
pendakian. hawa sejuk berteman kabut membuat kami bersemangat mendaki gunung.
Kami
berjalan santai, kedua temanku yang dulu sering mendaki dan berjalan cepat kini
nampaknya mulai kehilangan tenaganya yang dulu, mungkin karena sudah jarang
olah raga dan jarang mendaki gunung. Akupun memilih tetap berjalan pelan
membersamai teman-temanku. Meskipun aku sebenarnya mampu untuk berjalan cepat
membawa tenda ketempat berkemah dan mendirikan tenda terlebih dahulu, sehingga
ketika teman-temanku sampai bisa langsung menggunakan tenda dan melanjutkan
aktifitasnya, cara ini sebenarnya lebih efektif, namun aku lebih senang
berjalan pelan membersamai teman-temanku.
Menjadi
pejalan pelan itu lebih menyenangkan, karena bisa lebih banyak mengukir
kenangan yang bisa kita ceritakan, bisa lebih lama menikmati keindahan, bisa
berfoto dengan dengan gaya kekinian selama diperjalanan, dan yang terpenting
ialah bisa menikmati perjalanan.
Sesampainya
di sunrise camp tempat kami hendak berkemah, kami sedikit kesusahan mencari
tempat yang aman dan nyaman untuk mendirikan tenda, kabut yang menyelimuti
tempat itu menyusahkan kami untuk melakukan navigasi darat. Akhirnya kami
menemukan tempat yang cocok Setelah berulang kali kesana kemari mencari tempat
yang datar dan sekiranya aman dari terpaan angin. Kami segera mendirikan tenda
lalu melanjutkan aktivitas masak dan beribadah.
Selesai
makan malam, kabut mulai pergi, langit terlihat cerah dengan gemerlap bintang
menghiasinya. Malam itu sangat cerah, tiada awan yang menutupi satu bintang
pun. Kami segera keluar dari tenda dan berjalan diujung bukit, malawan udara
dingin gunung prau untuk menikmati indahnya milki way. Dari tempat itu terlihat
juga jajaran gunung yang terlihat gagah disisi selatan, barisan gunung sindoro
dan sumbing nampak gagah. Diujung horizon juga nampak gunung merapi dan merbabu
yang nampak mungil namun tetap terlihat gagah.
Ketika
badan mulai dingin beberapa teman memutuskan kembali ke tenda dan segera tidur,
namun aku belum puas manapat indahnya gugus-gugus bintang yang menghiasi
langit, ternyata bukan hanya aku, satu sahabat ku juga masih betah memandangi
indahnya langit, ia adalah seorang cewek seumuran denganku dan dia juga suka
melihat bintang sama seperti aku, karena masih kurang puas melihat bintang
ditempat itu, aku mengajaknya keatas bukit sebelah barat, ditempat yang lebih
tinggi dan lebih jelas untuk melihat bintang karena tidak ada polusi cahaya
yang berasal dari lampu tenda seperti tempat kami berkemah.
Puncak
bukit itu bernama ladang lonte sore, lonte sore adalah sebutan warga lokal
untuk menyebut bunga diesy yang banyak tumbuh digunung prau, sebenarnya tempat
itu sangat cocok untuk menikmati senja, namun dilamam hari yang cerah itu,
selain bisa melihat bintang dilangit dengan lebih jelas karena tidak ada polusi
cahaya dari lampu tenda, ternyata juga bisa melihat hamparan lampu-lampu
pemukiman penduduk dieng. Kami berdua sama-sama terkagum-kagum dengan indahnya
pemandangan malam itu. Setelah beberapa waktu, aku mengajaknya segera kembali
ketenda sebelum teman-teman yang lain berpikiran aneh-aneh karena kami pergi
berdua seperti orang pacaran.
Pagi
harinya kami bangun dan langsung keluar dari tenda untuk menikmati indahnya
matahari terbit. cahaya keemasan menyingsing langit gelap dari ufuk timur. Pagi
itu para pendaki yang berkemah ditempat itu bergegas menuju ujung bukit untuk
melihat indahnya matahari terbit dan jajaran gunung yang menjulang diatas awan.
Tidak puas dengan itu, aku langsung mencoba naik keatas bukit disebelah utara,
orang yang semalam melihat bintang bersamaku ternyata juga mengikutiku. Diatas
bukit itu matahari terbit terlihat jauh lebih indah meskipun hembusan angin
terasa lebih dingin.
Tiba-tiba
temanku memanggilu, saat aku menoleh ia sudah membentangkan kertas bertulisan
“barrakallah fii umrik Ahmad”. aku langsung sadar setelah lupa kalau hari itu
aku ulang tahun. Tak ada yang bisa terucap, hanya saling tatap dan tersenyum.
Aku pun teringat lagi kalau tujuanku mendaki kali ialah untuk lari sejenak dari
keributan kota dan mencari ketenangan dihari ulang tahunku, sebenarnya aku tak
terlalu suka dengan hari ulang tahun, dengan banyak ucapan dari sana sini
(bukan berarti aku seratus persen benci, aku masih tetap suka karane sebagian
menyisipkan doa dalam ucapan itu). Rencananya dengan mendaki gunung aku tak
akan mendapat banyak ucapan selamat ultah yang bermunculan dipanel notivikasi
gawaiku, karena digunung tak ada sinyal. Dan diketenangan saat bertualang ini
aku merayakan hari kelahiranku dengan menyendiri, menikmati alam semesta,
manyadarkan diri bahwa tepat 20 tahun lalu aku datang kedunia ini, dunia yang
sangat indah, seindah apa yang terhampar didepanku.
Hari
mulai beranjak siang, setelah sarapan kami beristirahat sejenak lalu packing
dan melakukan perjalanan turun gunung. Sampai basecamp kami segera membersihkan
diri, mandi dengan air yang super dingin, sehingga membut tubuh seakan tak mau
berhenti untuk menggigil, namun dapat terkalahkan dengan oborlan hangat bersama
teman-teman sembari menghisap secangkir kopi hitam. Katika kami sudah kehabisan
bahan obrolan, sepontan semua menatap layar gawainya, begitupun aku, dilayar
gawai ku sudah muncul banyak sekali pesan-pesan masuk berisi ucapan selamat
ulang tahun, ku telisik satu persatu tanpa menjawabnya, tangan ini masih enggan
untuk mengetik, ada satu pesan yang menarik, yaitu pesan dari pihak basecamp
pendakian gunung lawu, yang menginfokan bahwa semua jalur pendakian gunung lawu
sudah dibuka. Pesan itu terkirim sehari sebelum hari itu, pada pukul 9 pagi.
Tepat dengan waktu kami berangkat dari jogja, info tersebut telat kuketahui
karena sejak pagi sebelum berangkat aku sudah mematikan koneksi internet di
gawai ku. Dalam hati aku hanya tersenyum sambil berandai-andai, andai saja aku
kemarin mengaktifkan koneksi internet, mungkin sekarang aku sudah digunung
lawu.
“Menjadi pejalan pelan itu lebih menyenangkan, karena bisa lebih banyak
mengukir kenangan yang bisa kita ceritakan, bisa lebih lama menikmati
keindahan, bisa berfoto dengan dengan gaya kekinian selama diperjalanan, dan
yang terpenting ialah bisa menikmati perjalanan”
video singkat saat pendakian
Komentar
Posting Komentar