Sebuah kisah tentang patah hati
Hallo pembaca, pernahkan kalian merasakan patah
hati karena kehilangan? Kalau iya berarti sama, dan ini kisah saya. Beberapa hari lalu saya sempat berdebat dengan ayah saya. Pada saat itu
ayah saya berencana menebang dau pohon besar didepan rumah kami, ada pohon
nangka dan pohon manga yang umurnya sudah sangat tua, saking besarnya pohon itu
membuat halaman depan rumah kami menjadi rimbun dan gelap karena daun dari
pohon itu sangat rindang. Bagi saya tak masalah, toh saya juga suka berada di
tempat yang rindang dan banyak
pepohonan besar tumbuh, seperti di hutan. Ayah saya berencana menebang pohon
itu karena dianggap sudah tidak berguna lagi karena sudah tidak pernah berbuah
dan rencananya akan menggantinya dengan pohon yang baru, saya melarangnya
karena tidak setuju, bagaimanapun juga semua pohon bermanfaat untuk penghasil
oksigen meskipun tak menghasilkan buah. Dan entah mengapa saya serasa patah
hati jika ada orang yang merusak bahkan menebang pohon.
Saya kembali teringat waktu saya kecil dulu,
saat saya masih duduk di taman kanak-kanak, saya sempat menangisi pohon asem
didepan rumah karena hendak ditebang, entah kenapa dulu saya begitu saying
dengan pohon itu, setiap hari saya suka sekali memanjat pohon itu. Namun entah
dengan alas an apa kakek saya hendak menebang pohon itu, dan saya pun menangis
meronta-ronta melarangnya, hah, lucu sekali saya waktu itu. Melihat saya yang
menangis dan melarang menebang pohon itu, akhirnya kakek saya mengurungkan
niatnya dan tidak jadi menebang pohon itu. Walau esok harinya pohon itu tetap
ditebang waktu saya tidak berada dirumah, dan saya menangis lagi saat melihat
pohon itu sudah ditebang. Begitulah pengalaman patah hati waktu kecil saya.
Menangisi sebuah pohon yang di tebang, alasannya hanya karena pohon itu adalah
tempat saya bermain waktu itu.
Saat saya masih kecil memang sudah suka dengan
pohon, terutama pohon yang bisa dipanjat seperti pohon blimbing dirumah teman
saya yang diatasnya dibuat rumah pohon. Waktu kecil saya juga sering memanjat
pohon jambu dirumah tetangga saya, ya tujuannya untuk mencuri buah jambu itu
sendiri, hehehehe, dan masih banyak sekali. Namun waktu kecil saya juga punya
pengalaman buruk karena pohon, waktu itu saya sudah kelas 4 SD. Saya dan
teman-teman hendak pergi ke sebuah sumber mata air dibukit timur desa kami,
saat itu kami memang hobby mandi di kubangan dekat sumber mata air itu,
sebenarnya menyerupai sungai kecil namun ada area yang lumayan luas dan bisa
untuk berenang, airnya yang jernih membuat kami lebih suka ketempat itu walau
harus berjalan kaki lumayan jauh untuk menuju tempat itu.
Ketika saya dan teman-teman berjalan menuju
tempat itu, tiba tiba saya tertimpa dahan pohon jati yang jatuh karena tertiup angin, besar dahan yang
menimpa saya lumayan besar, kira-kira besarnya seukuran lengan orang dewasa,
dahan tersebut jatuh tepat dipunggung saya waktu saya sedang merunduk mengambil
sesuatu, serontak saya tersungkur dan dada saya terasa sesak, hamper tidak bisa
nafas, punggung saya lecet dan berdarah, untung saja tulang rusuk saya aman dan
tidak terjadi apa-apa, hanya saja setelah kejadian itu saya sering merasa sesak
nafas dan saat diperiksa ke dokter ternyata saya terkena penyakit asma. Saya
sempat menderita asma cukup lama, hingga akhirnya saya benar-benar sembuh saat
sudah kelas 2 SMP karena ikut eksschool atletik yang membuat saya sering
berlatih lari dan diberi terapi oleh pelatih lari saya. Dari pengalam tersebut,
bukannya saya membenci pohon, namun saya justru takut untuk merusak
keberadaannya, saya sempat takut jika saya merusak pohon, maka pohon itu akan
balas dendam dengan mencelakai saya.
Hingga saat ini kecintaan saya dengan pepohonan
masih tertanam, dan tempat faforit saya saat ini adalah hutan tempat dimana
pepohonan tumbuh, kegiatan yang saya sukai saat ini juga berjalan ditengah
hutan, contohnya adalah mendaki gunung. Dan ketika ayah saya hendak menebang
pohon besar didepan rumah saya, saya sempat menolak, dan setekah diskusi
panjang, akhirnya pohon besar itu hanya dipotong dahannya dan menyisakan
sedikit tanpa menebangnya, dengan demikian pohon itu tetap tumbuh walau tak
rindang lagi, halaman rumah yang awalnya rimbun dan rindang, kini berubah
menjadi panas dan gersang. Setelah pohon itu dipotongi dahannya, sore harinya
saya duduk santai didepan teras rumah, disitu saya saksikan burung-burung yang
kebingungan mencari sarangnya yang kini telah hilang karena dahannya dipotong.
Saya merasa begitu kasihan dengan burung itu, kehilangan tempat tinggalnya
karena ulah manusia. Terkadan manusia diciptakan sempurna namun dengan
kesempurnaan itu menjadi angkuh dan seenaknya merusak alam, padahal manusia
bisa tetap hidup karena alam menjaga kita, sementara alam tanpa manusia pun
masih tetap hidup, maka selayaknya sebagai manusia haruslah menjaga alam yang
telah menopang kehidupannya.
Ih, kok sama sih kak. Aku juga nangis pas phon rambutan depan rumah di tebang.
BalasHapusAh masa sih?
HapusIya Kak. Mkanya pgen masuk kehutanan. Eh, nyasarnya ke manajemen. Dan bsk klo punya rumah sendiri, blkng rumah bkalan kubuat hutan. Wkwk
HapusYaelah maa, kita tu terlalu akrab untuk berpura-pura asing. Ehh . Aku manggilnya harus "air" gitu yaa
HapusHahaha. Maaf ya spam di blogmu
Hapusiya maa, spammu mengalihkan duniaku, hahaha
Hapus