Ciremai, (sebuah perjalanan malam mencekam)
Hujan bulan desember
yang turun dengan derasnya menemani langkah menuju puncak tertinggi jawa barat.
Kabut dingin nan pekat ikut berpartisipasi menambah beban berat pendakian.
Katanya selalu ada cerita disetiap pendakinan, namun bagiku selalu ada usaha
dan derita dalam sebuah pendakian, langkah kakiku yang perlahan menurun
intensitas geraknya tetap kupaksakan untuk melaju, hari berganti malam dan
hitam menjadi teman perjalanan, ditengah rimbunnya hutan kuayunkan kaki secara
perlahan melawan kantuk dan dinginnya malam yang mencekam. Satu persatu kalimat
keluhan terlontar dari mulut seorang kawan, “mau sampai kapan?” perjalanan
malam mencekam dengan derasnya guyuran hujan, menambah berat beban yang semakin
tidak karuan. Akhirnya, kami menyerah sebelum sampai target tempat merebah kan
badan sesuai dengan apa yang direncanakan. Disebuah pos pendakian kami dirikan
tenda untuk berteduh dan menghangatkan badan yang terlanjur dingin dan
terlanjur lelah karena dikecewakan.
Didalam
tenda pos lima pendakian gunung ciremai via palutungan, kami rebahkan badan
menuruti badan yang terlanjur kelelahan. Berharap bisa bangun pagi-pagi sekali
untuk segera bergegas menuju puncak, dengan harapan bisa memandang sang fajar
merekahkan kabut pagi dan menyirami dunia dengan pancaran sinarnya. Namun sayang, nasib berkata lain, badan
yang terlalu manja terlalu malas untuk diajak bangun pagi dan mewujudkan mimpi.
Sempat berfikir untuk mengurungkan niat untuk melanjutkan langkah sampai puncak
Karena kami sudah tak ingin bertemu malam lagi digunung ini, namun apa daya,
rasa sayang dengan perjuangan sampai ujung sini jika hanya berujung menyerah
dan kembali tanpa harus menyelesaikan pendakian dengan menapakkan kaki
dipuncaknya.
Perjalanan
menuju puncak kami tempuh dengan rasa angkuh tanpa basa-basi. Puncak pun
berhasil kami gapai walau hanya sebentar kami memijakkan kaki diatasnya, karena
hujan turun seolah memaksa kami untuk segera turun. Peringatan bahwa kami telah
banyak membuang waktu, meluangkan untuk menuju puncak dan alhasil perjalanan
turun harus kami lakukan malam hari lagi, perjalanan naik dan turun pada malam
hari yang sangat melelahkan dan membuat mental yang sudah tertata berubah
menjadi hancur berantakan. Pendakian penuh penderitaan namun sedikit kenangan
yang dapat diceritakan akhirnya dapat kutuntaskan, tempat tertinggi di jawa
Barat sudah kutakhlukkan namun ego dalam diri belum juga dapat kutakhlukkan.
Komentar
Posting Komentar