Hujan Dambaan Tanah


Hujan pagi itu telah beralu, meninggalkan semerbak bau tanah. mengingatkanku dari apa aku tercipta dan kemana aku kembali, dari tanah dan kembali menjadi tanah. itulah kodrat manusia. Sangat angkuh sekali jika aku berharap bisa menjadi hujan, yang jatuh kebumi membawa ribuan kebaikan, menyuburkan dan menumbuhkan ribuan kehidupan. mengalir menyusuri daratan dengan gesitnya, seperti petualang yang menerjang hutan belantara untuk mencari jati diri. Menemukan muara diujung sana, lalu lenyap, menyelam samudra dan menemukan berbagai makna. Lalu menguap naik ke udara, melayang-layang dan terbang terbawa angin melintasi cakrawala. Menebar harapan bagi hamparan umat manusia. Lalu jatuh lagi ke tempat manapun kau mau. Menebar kabaikan dan manfaat. Meski kadang dengan merahnya kau menumpahkan dirimu hingga menenggelamkan kehidupan manusia. dan aku? Seonggok tanah yang gersang tanpa kehadiranmu, yang tak bisa menyelami samudra dan melayang menjelajah angkasa. Tapi menjadi tanah tak selamanya terhina dan diinjak-injak. Aku bisa menjadi yang terdalam. Lebih dalam dari samudera, karena aku dasar dari samudera. Atau menjadi yang tertinggi menjulang dan menembus langit. Lebih tinggi dari segerombolan awan, karena aku adalah puncak gunung yang menjulang menggapai langit. Jadilah diri sendiri dan jadilah seperti apa kau bermula dan kemana akan berahir, tetaplah menjadi tanah yang selalu merendah, rela di injak tapi tak pernah menginjak, tetap dibawah untuk menopang kehidupan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

malam ini ku mendaki dalam mimpi

Kawan Lama

Sebuah kisah tentang patah hati

Perihal bahagia (senja, kopi dan mendaki)

Setren Opak (tempat sendu pelepas pilu)

sebatang pohon

Kultur Angkringan Yang Mulai Pudar

Sampah visual bikin sakit mata aja

Perjalanan tanpa ujung

touring (telaga sarangan)