Tualang (pembuktian kesabaran)
Bertualang dan
keluarlah dari zona nyaman, sebuah frasa yang pernah memengaruhiku, sehingga
dengan terpaksa aku terlibat pada sebuah petualangan yang pada ahirnya menjadi
kebiasaan bahkan kebutuhanku. Berawal dari ajakan dari teman-teman yang kerap
malalang buana, menjelajah tempat tak terjamah, mengabadikan setiap momennya,
berfoto dengan gaya kekinian lalu menguploadnya dimedia sosial untuk
dipamerkan, bukti bawa ia telah menyelesaikan sebuah perjalanan. Entah apa
tujuannya seseorang melakukan sebuah petualangan, nampaknya banyak sekali
alasan-alasan yang mungkin tak masuk akal, seperti mencari jati diri kah,
menemukan hidupnya atau alasan serupa lainnya. Namun ada juga yang bilang kalau
sudah jadi traveler dan sudah mengunjungi berbagai tempat akan ada kebanggan
tersendiri. Dari ajaka teman dan
dorongan keinginan dalam hati ahirnya aku melakukan sebuah perjalanan.
Menjajaki tempat yang belum pernah kupijaki sebelumnya, yaitu sebuah puncak
gunung.
Petualangan pertamaku ialah
mendaki gunung dengan modal nekat, karena belum punya pengalaman sama sekali,
kukira mendaki gunung itu menyenangkan, dapat menikmati indahnya pemandangan disepanjang
pendakian, berfoto ditempat-tempat yang menakjubkan, dan bertemu orang orang
yang menyenangkan. Nyatanya tidak, petualangan pertamaku adalah perjalanan
penuh derita, jarak tempuh dari rumah sampai ke kaki gunung yang hendak kudaki
sangatlah jauh, seperti perjalanan tanpa ujung yang membosankan, menguras
tenaga dan merenggut kenyamanan. Saat mendaki gunung pun tak seindah yang
kubayangkan, pendakian gunung ternyata perjalanan yang penuh dengan perjuangan,
medan yang terjal, beban tas yang berat, dan dingginnya udara gunung ternyata
lebih sulit ditaklukan dibanding apa yang sempat terpikirkan.
Yang paling berat dalam
petualangan itu ternyata pikiran kita yang tak pernah jinak, selalu memandang keadaan
dengan sesuatu yang buruk, perjalanan yang harusnya biasa saja menjadi seperti
perjalanan panjang yang sangat susah karena pikiran kita hanya memikirkan apa
yang susah, memikir rendah apa yang kita tuju, sebuah puncak gunung, memikirkan
apa yang akan didapat dari sebuah puncak gunung? Memikirkan apa yang terjadi,
sampai sampai kita kelelahan bukan karena tubuhnya yang benr-benar lelah namun
otakk kitalah yang lelah karena memikirkan apa yang sebenarnya tak perlu
dipikirkan.
Sebuah petualangan ahirnya sukses
kulewati, derita dalam perjalanan masih tetap terkenang, sejak itulah aku
mulaui rindu untuk bertualang ketika kenangan itu kembali muncul dalam
pikiranku. Berbagai artikel dan buku yang bercerita tentang perjalanan dan
petualangan ahirnya menjadi daya tarikku, ternyata bebrapa penulis memang
bercerita bawa perjalanan itu ak selalu menyenangkan seperti apa yang terlihat,
meski beberapa hanya menuliskan apa yang indah-indah saja hingga memprofokasi
pembacanya untuk mengunjungi tempat itu.
Berbekal sebuah pengalaman
bertualang dan mencapai puncak gunung pertamaku, akupun tertarik untuk kembali
melakukan perjalanan yang sudah kutau pasti anak penuh dengan derita.
Perjalanan panjang akan kutempuh, sekarang bukan hanya fisik dan logistik yang
harus dipersiapkan dengan matang, namun mental dan fikiran yang jernih harus
dipersiapkan dengan matang. Kini aku siap melakukan perjalanan yang sangat luar
bisaa. Kini tujuanku masih sama seperti petualangan pertama itu. Yaitu sebuah
puncak gunung, puncak gunung yang lebih tinggi dari sebelumnya. Entah kenapa
puncak gunung selalu menjadi dayatarikku untuk ditakhlukkan.
Ternyata perjalanan yang kutempuh
masih saja tak sesuai harapan, meski mental sudah kuat, ternyata aku kini
sadar, sebuah perjalanan juga memerlukan kesabaran yang besar, bayangkan saja
saat melakukan perjalanan dengan kereta yang memerlukan waktu seharian penuh,
seharian aku harus duduk diam, tak tau mau melakukan apa, hanya mengeluh bosan,
mau ngobrol dengan orang disekitar, tapi masih tetap saja canggung dan pusing
memikirkan topik pembicaraan, hanya sempat bertanya dari mana? Tujuan kemana?
Kamu orang asli mana? Yah itu saja. Tak ada inovasi obrolan lain. Tak mungkin
juga kan aku bertanya itu-itu saja selama seharian duduk dikreta, atau bertanya
ke orang berbeda, seisi gerbong ditanyai seperti sedang melakukan sensus. Ya
rasanya tidak mungkin.
Perjalanan yang penuh perjuangan
ternyata juga sebuah perjalanan yang sangat membosankan. Bosan menunggu kereta sampai
tujuan, belum lagi ketika kehabisan tiket dan harus menunggu jam pemberangkatan
berikutnya, menunggu beberapa jam yang rasanya seperti puluhan jam. Hanya diam
distasiun menunggu kereta dan tak bisa kemana-mana. Ahirnya kebosanan ini
mendorongku untuk bercengkrama dengan orang asing. Ngobrol dengan orang yang
baru kukenal dan harus membuang jauh-jauh rasa canggung itu.
Demi bisa menakhlukkan sebuah
gunung yang kalau dipikir-pikir tak akan dapat apa apa ternyata juga butuh
kesabaran yang besar, ternyata bukanlah puncak gunung yang harus ditakhlukkan,
namun diri sendiri lah yang harus kita talkhlukkan. Perjuangan mendaki gunung
akan terasa berat bahkan sangat berat jika diri sendiri saja belum kita kuasai
sepenuhnya, yang terpenting ialah fokus pada perjalanan itu. Dan senantiasa
berfikir positif.
Ahirnya dapat kusimpulkan bahwa
perjalanan yang mengesankan seperti banyak tulisan yang kubaca ternyata juga
sebuah perjalanan yang sangat membosankan, sama membosankannya dengan duduk
berjam-jam dalam kelas menyimak penjelasan dosen. Namun dalam perjalanan aku
mendapatkan sebuah pengalaman. Katanya pengalaman ialah guru terbaik. Dengan
petualangan yang membosankan itu aku menjadi orang yang harus sabar, lebih
tepatnya memaksa untuk sabar. Namun seberat apapun penderitaan saat bertualang
tetap saja ingin selalu kulakukan. Bahkan ketika penat dengan rutinitas, terkadang
aku akan sejenak lari dari kenyatan dan melakukan petualangan.
Komentar
Posting Komentar