sebatang pohon
Sesi diskusi sore ini bersama keluarga berlangsung sedikit berbeda
karena adanya saya , ada ayah ibu dan nenek serta tetangga depan rumah, yah
jarang sekali saya terlibat dalam perbincangan ini, duduk didepan rumah yang
berada ditengah desa yang permai, aman, nyaman, tenang, uhhh. Ok, pembicaraan
kali ini sedikit berbeda, kalau biasanya ibu-ibu dan bapak-bapak serta
nenek-nenek tua ini kalau ngumpul pasti ngomongin orang, kali ini berbeda, ada
saya seorang yang seakan asing ikut ngobrol bareng, kenapa asing? Ya jarang
sekali saya punya waktu luang dan nimbrung ikut ngobrol, biasanya sore-sore
gini saya masih dikampus atau dalam perjalanan pulang, sesampai rumah pun
jarang sekali bisa ngobrol dengan keluarga, soalnya ada tugas yang harus
diselesaikan, jadi ya sampai rumah langsung mandi (kalau mau) makan langsung
masuk kamar. Sebenernya keterlibatan saya ingin bergabung ngobrol ini adalah
rencana saya mau pamit mendaki gunung, hehehehe, sok akrab lah. Oh iya inti
dari saya nulis ini saya mau cerita tentang apa yang bapak-bapak dan ibu-ibu
tersebut ceritakan kepada saya.
Ketika semua sedang asik ngobrol, saya menyela ikut nimbrung, mereka
yang sedang ngobrolin pisau yang ia buat dari gergaji, apa sih, nah, jadi
kakekku tu punya gergaji besar gergaji yang manual itu loh, yang harus dua
orang untuk mengoprasikannya, ujung satunya narik yg satu ndorong kemudian
bergantian. Nah karena saya nggak tau, dan saya sok tau, saya Tanya deh,
“kiro-kiro nek negor uit nggo graji kui pirang jam ya?” artinya “kira-kira
kalau nebang pohon pakai gergaji itu berapa jam ya?”
Mereka ketawa, nampaknya saya sok tau beneran, gergaji itu untuk
membelah kayu glondongan, bukan menebang, hedehh, dasar saya, sok tau. Trus
setelah sesi menertawakan dan ditertawakan, mulai lah pembicaraan tentang
kebudayaan primitif desa jaman dulu diceritakan. Dulu kalau mau nebang pohon
aja perlu persiapan seminggu sebelumnya, yang disiapkan adalah sebuah tempat
semacam penyangga setinggi kurang lebih satu meter yang digunakan untuk
membelah kayu glondongan. Waktu yang diperlukan untuk menebang sebuah pohon
berdiameter kurang lebih satu meter aja memerlukan waktu setengah hari
menggunakan parang, huftt lama yaa,
Tidak berhenti sampai situ kawan, setelah pohon tumbang, pohon dipotong
lagi sesuai panjang yang diinginkan, sesuai dengan kebutuhan. Setelah itu, kayu
glondongan itu dinaikkan keatas penyangga yang sudah disiapkan, tinggunya ya
sekitar satu meter, baru setelah itu kayu glondongan dibelah menggunakan
gergaji manual itu, satu orang diatas dan satunya dibawah, waktu yang
dibutuhkan juga lama banget cuyyy, bisa sepuluh hari untuk satu pohon, hanya
membelah menjadi beberapa bagian loh itu, anjayyy, nglangut lurrr.
Oh iya kebodohan saya kembali muncul, lah karena saya nggak tau ya saya
Tanya dong. “lah nk ngono sake sek ng ngisor le mbelah kayu, sek ngisor
kerantapan tai graji noh?” artinya “ lah kalau gitu kasihan yang dibawah dong
saat membelah kayu, yang dibawah kejatuhan bekas hergaji dong?” tawa kembali
menggelegar, sesi menertawanakn dan diketawakan yang kedua terjadi. Yah wajar
saja, saya memang lucu. Eh bukan ding, saya gak tau apa-apa, dasar manusia
jaman milenial. Ternyata mengergajinya tu serong kawan, jadi yg dibawah gak
kena bekas gergajinya dong. Gimana sih, orang primitif gak sebodoh itu juga
kaliii, hedehhh.
Terus untuk menaikkan kayu glondongan keatas penyangga itu juga harus
gotong royong, setelah siap menaikkan si orang yang hendak menmbelah kayu harus
memanggil warga sekitar untuk gotong royong, caranya dengan berteriak dengan
kencang, “KOLOBIS KONTOL BARIS, SIJI, LORO, TELUUUUU” ya itu adalah semacam
mantra mengundang warga, hehehe, lucu kan? Keren kan? Coba kalau sekarang triak
gitu, ya kayaknya warga juga ada yang datang sih, tapi bukan untuk gotong
royong, tapi ngira kalau ada orang gila sedang kumat. Hehehe.
Selain menebang pohon yang ada disekitar rumah, kalau semisal butuh kayu
yang ukuran besar, biasanya warga cari kayu di hutan, ditimur desa saya emang
ada bukit yang masih ada hutannya dengan pohon-pohon besarnya, trus untuk
membawanya dengan cara “diglontorr”, gak tau apa itu diglontor, intinya dengan
cara diglindingkan diatas alu (penumbuk padi) atau di dorong gitu lah, ah entah
gimana caranya, pokokmen didorong bareng-bareng. Dan jarak dari bukit sampai
desa tu ya lumayan jauh, dasar orang dulu, pekerja keras sekali, ya gitulah
keadaan jaman dahulu disaat negara api belum menyerang. Mau bikin rumah dengan
kayu aja susah banget yaa. Tapi kerja samanya patut dicontoh tuh, sekarang
mah jarang kaya gitu, semua orang sudah
gak sempat gotong royong, udah sibuk memperkaya diri sendiri, atau malah sibuk
cari ilmu kesana kemari sampai lupa rumah.
Ok, sekarang coba renungkan kawan, dulu menebang pohon saja butuh waktu lumayan
lama dan bersusah payah, berbeda dengan saat ini, setelah hadirnya gergaji
mesin membuat menebang pohon bisa lebih cepat, tidak sampai setengah jam satu
pohon sudah tumbang. Wajar saja kalau saat ini pohon sangat cepat habis.
Semakin lama pepohonan tergusur berganti beton. Hutan belantara tak lagi rimbun
karena pohon, tapi rimbun ditumbuhi oleh beton. Pembangunan disana sini tidak
diiringi penanaman kembali. Lalu kalau pohon habis kalian mau bernafas dengan
oksigen dari mana? Dari asap kenalpot?
![]() |
| sebuah pohon yang saya jepret ketika mendaki gunung merapi. |

Mantapppppp
BalasHapusbiasa aja
HapusYaudah. Biasa ajaaa
Hapus