Kawan Lama
Selepas bertahun-tahun
tak bertemu, akhirnya pertemuan menyatukan kita lagi. Kawan lama yang menemani
kisah dimasa paling indah, dimana semua terasa loss tanpa beban. tak peduli
dengan apa yang terjadi dimasa depan, yang terpenting kita senang dan terbang
menggapai angan-angan. Kita kawan untuk melewati sendu dan pilu masa putih
abu-abu. Lama terpisah karena tuntutan keadaan, berpisah untuk menempuh jalannya
masing-masing. Apa sih anjirr, jadi melankolis gini.
Ok gaes, dalam
tulisan ini saya hanya mau cerita dikit tentang “kawan lama” seperti yang
tertera dijudul, tapi sebelumnya saya ingin mengingatkan jika kalian sedang
sibuk dan tidak ingin waktunya terbuang sia-sia mendingan gak usah melanjutkan
membaca. Karena dalam tulisan ini saya hanya mau menceritakn kegiatan meet up
saya dengan teman akrab – sahabat mungkin – yang menemani ku selama duduk
dibangku SMA – sek, kayaknya dulu duduknya di kursi deh, eh apa sih – nah itu
lah maksudnya, intinya tulisan ini gak penting-penting amat untuk di baca, tapi
kalau lagi gabut dan bener-bener gabut ya silahkan lanjut membaca.
Dipenghujung akhir
bulan Ramadan tahun ini temen-temen kelas SMA ngadain Buka bersama, ya seperti
yang kita tahu bahwa semua alumni pasti akan bukber pada waktunya. Ya sama kaya
yang lain lah, buka bareng yang entah untuk apa, buat cari foto mungkin, atau
modus ketemuan sama mantan, atau mengisi waktu gabut, yah gak tau lah
alasannya, pokoknya bukber-bukber aja. Sebenernya diri ini males kalau harus
bukber-bukber terus, tapi ya mumpung selo ya gak papa lah ikut, itung-itung
ketemu kawan lama.
Setelah bukber
berjalan sewajarnya dan penyakitku kambuh seperti biasanya, iya, penyakit yang
itu loh, hilang nafsu makan setelah habis nasi satu piring, atau penyakit
kantuk karena kekenyangan yang biasa saja sih, anjir gak jelas banget. Ya gitu
lah, buber, terus foto-foto dan curhat mbuh lah, tau sendiri kan bukber. Nah,
alih-alih kita berempat kumpul (cowok-cowok sekelas yang kemana-mana bareng
karena cuama itu temennya), rasanya kurang afdol kalau kumpul-kumpul gini tanpa
ngopi, akhirnya selepas sholat maghrib tanpa basa basi kami ber empat langsung
tancap gas pergi ke tempat yang enak buat ngobrol sambil ngopi.
Kami berempat
memacu motornya sendiri-sendiri – ya ada yang mboncengin ceweknya terus nganter
pulang dulu baru join lagi – Dan kami pun memutuskan untuk pergi ke puncak paralayag
didekat pantai parangtritis, kenapa kesitu? Ya karena tempatnya syahdu. Sesampainya
disana cerita-cerita yang tadi sudah diawali ditempat buber kami lanjut. Ya masih
suasana yang sama seperti masa SMA, ngomongin ini itu apa lah, ya ngobrol aja. Sambil
ngobrol ditemani udara dingin akhirnya ya sebat-sebat dulu lah. Dulu kami ber
empat sama sekali tidak merokok, namun seiring berjalannya waktu dan tuntutan
pergaulan, satu persatu mulai mencumbui nikotin. Nah saat seperti ini lah
komitmenku untuk tidak merokok teruji, harus menjadi minoritas yang harus
membaur kaum mayoritas – sumpah ini lebay – ah udah lah, inget-inget dan pegang
teguh aja sama kata-kata “merokok membunuhmu” namun “tidak merokok bukan
berarti tak akan mati” ya intinya merokok dan tidak akan sama-sama mati.
Kami ber empat
walau lama tak bertemu ternyata ya gak jauh berbeda, masih dengan obrolan gak
jelasnya dan penampilannya ya gini-gini aja, hanya terlihat lebih dewasa dikit.
Si itu yang masih saja pakai pakaian yang modis dan kekinian serta motornya
yang gaul namun orangnya tetap lugu, terus yang itu yang masih pw dengan oblong
dan sandal jepit swallow, satunya lagi ya tampilan gitu-gitu aja, aku aja yang
tambah ganteng dikit, eh iya gak sih? Nggak cok, tambah elek. Hedehh, yah
sambil sebat sebat obrolan yang sama seputar desain, gabut, bahas lampu jalan,
bahas lobang di jalanan, ya receh-receh gitu lah.
Dan kebiasaan yang
masih melekat sampai sekarang adalah, saya yang selalu pulang duluan karena
harus rapat, anjir dari SMA saya pikir-pikir iya juga yaa, selalu saja izin mau
rapat dulu, sampe yang lain sambat, “alah maaat, ket bien nek kumpul kok mesti
bali sikik muk arep rapat, ket bien kok ra ono bedane” yah gitu lah kira-kira,
ya gimana dong, tuntutan situasi yang mengharuskan kaya gini. Ya daripada
kumpul gak jelas gitu kan mending rapat to yaaa. Ya setelah saya pulang ya udah
gak tau mereka pada ngapain yang jelas mereka itu orangnya kurang kerjaan
seperti anda, yang mau-maunya baca tulisan gak jelas ini, sampai sini pula,
hedeh, ra mashook.

Widiww
BalasHapus